“Bagaimana teknologi yang ada sekarang dapat dimanfaatkan sehingga tersedia infrastruktur keselamatan dan dapat menjadi contoh bagi desa-desa adat lainnya. Mudah-mudahan ini tidak membutuhkan waktu lama,” kata Widiyanti.
Selain proteksi kebakaran, pembangunan kembali juga akan memperhatikan infrastruktur dasar, seperti amenitas, sanitasi, pengelolaan sampah, dan fasilitas pendukung pariwisata.
Keempat, pembangunan rumah layak tinggal bagi masyarakat. Sebelumnya, Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah telah membangun 40 unit rumah layak tinggal bagi masyarakat adat Sade.
- Baca juga: https://rasional.co/kemenpar-dan-kemensos-sepakat-perkuat-akses-pendidikan-dan-sdm-pariwisata/
Bantuan Darurat hingga Pemberdayaan Ekonomi
Selain rencana jangka panjang, pemerintah juga menyusun empat langkah jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
Langkah pertama adalah penyediaan dan distribusi stok makanan bagi masyarakat terdampak.
Kedua, pengoperasian dapur umum dan distribusi bantuan logistik. Kementerian Pariwisata melalui Poltekpar Lombok bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI/Polri, dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Ketiga, penguatan program pemberdayaan masyarakat dan pelaku pariwisata. Program tersebut antara lain meliputi trauma healing bagi korban terdampak, khususnya anak-anak, serta bimbingan teknis secara berkala kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan warga mengenai prosedur tanggap darurat serta evakuasi wisatawan.
Pendampingan pembangunan usaha masyarakat adat juga akan diperkuat, termasuk dukungan modal kerja bagi pelaku usaha pariwisata, penyediaan alat tenun, serta tempat sementara untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat secara bertahap.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pariwisata turut memberikan bantuan sejumlah alat tenun kepada masyarakat Desa Adat Sade. Bantuan ini diharapkan dapat membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas ekonomi sekaligus mempertahankan tradisi menenun yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Sasak.
Keempat, pemerintah merencanakan pembangunan museum sementara dan masjid. Museum tersebut diharapkan menjadi ruang bagi wisatawan untuk mengenal sejarah, nilai budaya, serta kehidupan masyarakat Suku Sasak secara langsung dan autentik.

