JAKARTA – Kylian Mbappe akhirnya merespons tren meme viral di media sosial yang belakangan ini sering menggambarkan dirinya sebagai seorang diktator. Meski awalnya menganggap editan tersebut sebagai lelucon internet biasa, striker andalan Real Madrid ini merasa candaan tersebut lama-lama mulai menunjukkan minimnya rasa empati dan kesadaran politik dari para warganet terhadap sejarah kelam dunia.
Lewat wawancara terbarunya dengan media asal Prancis, L’Equipe, Mbappe mengaku kalau ia sebenarnya paham sisi humor dari meme tersebut. Namanya juga media sosial, tujuan awalnya pasti cuma buat lucu-lucuan. Namun, di balik unsur komedinya, penyerang berusia 27 tahun ini merasa ngeri dengan perbandingan tersebut.
Menurutnya, menyamakan dirinya dengan tokoh-tokoh tiran yang menjadi dalang penderitaan jutaan orang di masa lalu adalah sesuatu yang kurang pantas.
“Di satu sisi, saya paham kalau ini dibuat sebagai candaan ringan dan nggak bermaksud menyinggung terlalu jauh. Tapi di sisi lain, fenomena ini justru memperlihatkan kurangnya kesadaran politik dan kemanusiaan pada banyak orang,” ungkap Mbappe.
Ia menambahkan betapa tidak masuk akalnya perbandingan tersebut. “Disamakan dengan orang-orang yang membunuh sesamanya atau yang telah menyebabkan kesengsaraan bagi jutaan umat manusia? Rasanya seumur hidup saya nggak pernah melakukan hal seburuk itu,” tegasnya.
Buat kamu yang mungkin terlewat, meme Mbappe mengenakan seragam militer ala perwira tinggi memang cukup sering wara-wiri di linimasa belakangan ini. Walau sumber atau pembuat aslinya masih jadi misteri, banyak yang memprediksi kalau editan kocak namun satir ini lahir pasca hebohnya kasus Mbappe pada awal tahun 2024.
Kala itu, sang megabintang menuntut seorang pemilik kedai kebab karena menggunakan namanya sebagai deskripsi menu sandwich tanpa izin.
Selain perkara kebab, netizen juga sering mengaitkan meme kediktatoran ini dengan besarnya pengaruh alias power yang dimiliki Mbappe di ruang ganti. Baik di klub barunya, Real Madrid, maupun saat ia masih menyandang status sebagai ‘raja’ di Paris Saint-Germain (PSG), Mbappe sering diposisikan layaknya bos besar yang punya kendali penuh atas segalanya.
Menariknya, guyonan bernada otoriter ini tidak cuma datang dari warganet, tapi juga dari lingkar pertemanannya sendiri. Rekan setimnya di Timnas Prancis, Ousmane Dembele, belakangan sering memanggil Mbappe dengan sebutan “Mobutu”.
Sebagai konteks sejarah, Mobutu Sese Seko adalah diktator absolut yang memimpin Republik Demokratik Kongo (sempat berganti nama menjadi Zaire) selama lebih dari tiga dekade, tepatnya pada periode 1965-1997. Lalu, bagaimana reaksi Mbappe saat dipanggil dengan nama tiran tersebut oleh temannya sendiri?
“Ousmane itu memang beda. Dia cuma nemu guyonan itu di media sosial, dan saya tahu dia cuma sedang bercanda,” jawab Mbappe santai menanggapi kelakuan sahabatnya itu.
Terlepas dari hiruk-pikuk dan drama meme di jagat maya, performa Mbappe di atas lapangan hijau tetap menjanjikan. Memasuki awal musim ini bersama Los Blancos, ia sudah sukses menyarangkan lima gol dari lima pertandingannya. Fans Real Madrid bisa kembali menantikan aksi ciamik Mbappe saat timnya dijadwalkan menjamu Rayo Vallecano pada pertandingan hari Minggu (13/9) mendatang.

