Selain perkara kebab, netizen juga sering mengaitkan meme kediktatoran ini dengan besarnya pengaruh alias power yang dimiliki Mbappe di ruang ganti. Baik di klub barunya, Real Madrid, maupun saat ia masih menyandang status sebagai ‘raja’ di Paris Saint-Germain (PSG), Mbappe sering diposisikan layaknya bos besar yang punya kendali penuh atas segalanya.
Menariknya, guyonan bernada otoriter ini tidak cuma datang dari warganet, tapi juga dari lingkar pertemanannya sendiri. Rekan setimnya di Timnas Prancis, Ousmane Dembele, belakangan sering memanggil Mbappe dengan sebutan “Mobutu”.
Sebagai konteks sejarah, Mobutu Sese Seko adalah diktator absolut yang memimpin Republik Demokratik Kongo (sempat berganti nama menjadi Zaire) selama lebih dari tiga dekade, tepatnya pada periode 1965-1997. Lalu, bagaimana reaksi Mbappe saat dipanggil dengan nama tiran tersebut oleh temannya sendiri?
“Ousmane itu memang beda. Dia cuma nemu guyonan itu di media sosial, dan saya tahu dia cuma sedang bercanda,” jawab Mbappe santai menanggapi kelakuan sahabatnya itu.
Terlepas dari hiruk-pikuk dan drama meme di jagat maya, performa Mbappe di atas lapangan hijau tetap menjanjikan. Memasuki awal musim ini bersama Los Blancos, ia sudah sukses menyarangkan lima gol dari lima pertandingannya. Fans Real Madrid bisa kembali menantikan aksi ciamik Mbappe saat timnya dijadwalkan menjamu Rayo Vallecano pada pertandingan hari Minggu (13/9) mendatang.

