Tuai Hujatan: Dari Kritik Konsep Hingga Isu Syirik
Meski sudah ada klarifikasi, jejak digital terlanjur memancing beragam reaksi pedas dari warganet. Banyak yang menyayangkan bagaimana sebuah tim bisa menyewa kostum se-ekstrem itu tanpa research (riset) mendalam soal maknanya.
“Katanya kostum cuma sewa di Malang. Kalau bikin parade cuma ngikut yang heboh, sekelas karnaval sekolah aja harus tahu tema dan pesannya apa. Masa alasannya enggak tahu kalau itu satanic? Ini antara bodoh atau sekadar cari alasan,” kritik pedas dari akun @ausesilia.
Tak cuma soal estetika, beberapa warganet juga menyoroti dari kacamata agama dan menganggap pertunjukan ini kelewat batas karena menyerempet perbuatan syirik.
“Lomba dalam perbuatan dosa syirik, mereka pemenangnya. Naudzubillah, Ya Allah,” keluh salah satu warganet di kolom komentar.
Kejadian di Simbang Kulon Night Carnaval ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi para kreator karnaval di masa depan. Menampilkan sesuatu yang unik dan beda memang penting, tapi literasi budaya dan pemahaman konsep di balik sebuah karya jauh lebih krusial agar tidak berakhir menjadi blunder di ruang publik.

