BANYUWANGI – Sejumlah pengusaha tahu di Banyuwangi mulai menghentikan usahanya setelah harga kedelai impor terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan biaya produksi dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak langsung pada bahan baku utama industri tahu.
Pemilik usaha House of Tofu Banyuwangi, Nurul Hakim, mengatakan kenaikan kurs dolar memberikan tekanan besar terhadap usaha yang dijalankannya. Dalam lima bulan terakhir, harga kedelai mengalami kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram.
“(Dolar naik) Dampaknya besar sekali. Harga kedelai dalam lima bulan terakhir ini sudah naik Rp2.000 per Kg. Harga bahan baku naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu. Hanya usaha saya yang masih berjalan sampai sekarang,” kata Nurul Hakim, dikutip dari akun resmi Nowdot, Sabtu(30/5/26).
Menurut dia, kondisi pasar saat ini membuat pelaku usaha kesulitan menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat masih terbatas. Akibatnya, sebagian produsen memilih mengurangi ukuran produk untuk menekan biaya produksi.
- Baca juga: Niat Hati Jual Tramadol Biar Untung, Pria Kebon Melati Malah Positif Sabu dan Sukses Masuk Penjara
Harga Kedelai Impor Naik Rp2.000 per Kilogram
Berdasarkan informasi yang beredar, harga kedelai impor meningkat dari sekitar Rp8.500 menjadi Rp10.500 per kilogram dalam lima bulan terakhir. Kenaikan tersebut terjadi ketika nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.861 per dolar AS.
Selain menghadapi lonjakan harga bahan baku, pelaku usaha juga harus menanggung kenaikan biaya operasional lainnya, termasuk tarif listrik. Kondisi itu membuat margin keuntungan semakin tipis.
Akibat tekanan biaya yang terus meningkat, sejumlah perajin tahu disebut terpaksa menghentikan usahanya. Sementara pelaku usaha yang masih bertahan berupaya melakukan berbagai penyesuaian agar produksi tetap berjalan.
Bagi usaha kecil, perubahan harga bahan baku yang berlangsung cepat menjadi tantangan serius karena ruang untuk menyesuaikan harga jual relatif terbatas.
Indonesia Masih Bergantung pada Kedelai Impor
Indonesia hingga kini masih mengimpor sekitar 2,2 juta hingga 2,6 juta ton kedelai setiap tahun. Hampir 90 persen kebutuhan tersebut berasal dari Amerika Serikat.
Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan luar negeri membuat industri tahu dan tempe dalam negeri sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah maupun harga komoditas global.
Pelaku usaha berharap stabilitas kurs dan pasokan bahan baku dapat terjaga agar biaya produksi tidak terus meningkat. Sebab, kenaikan harga kedelai impor bukan hanya memengaruhi keberlangsungan usaha kecil, tetapi juga berpotensi berdampak pada ketersediaan produk pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

