Di sisi lain, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri justru menurun 3,56 persen secara kumulatif menjadi 5,91 juta perjalanan sepanjang Januari–Agustus 2026. Pada Agustus 2026, penurunannya mencapai 6,02 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.
Perbedaan arah pergerakan tersebut membuat surplus antara kunjungan wisman dan perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri meningkat menjadi 4,67 juta secara kumulatif, dari 3,91 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara bulanan, surplus pada Agustus 2026 mencapai 960 ribu, naik dari 820 ribu pada Agustus 2025.
Daya Saing dan Kualitas Layanan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Di tengah pertumbuhan kunjungan, daya saing pariwisata Indonesia juga menunjukkan peningkatan berdasarkan Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026 yang dirilis World Economic Forum pada September. Skor Indonesia naik menjadi 4,56 dari 4,46 pada 2024, menempatkan Indonesia di peringkat ke-23 dunia dan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.
Meski demikian, Widiyanti mengatakan peningkatan daya saing masih membutuhkan perbaikan di sejumlah bidang, termasuk infrastruktur dan layanan pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keamanan.
Menurut dia, pembangunan pariwisata membutuhkan kerja sama lintas kementerian dan pemangku kepentingan. Pertumbuhan kunjungan wisatawan menjadi salah satu indikator positif, tetapi peningkatan kualitas layanan tetap diperlukan untuk memperkuat daya saing destinasi Indonesia.

