JAKARTA – Ancaman kenaikan muka laut global kini makin nyata setelah ilmuwan menemukan fakta bahwa Gletser Kiamat alias Gletser Thwaites di Antartika mencair dua kali lebih cepat dari prediksi awal.
Cepatnya es Antartika mencair ini murni dipicu oleh rembesan air laut hangat yang diam-diam menggerus bagian bawah bongkahan es raksasa tersebut. Kondisi darurat ini menempatkan masyarakat pesisir di seluruh dunia dalam bahaya besar akibat potensi tenggelamnya wilayah daratan di masa depan.
Penelitian terbaru yang rilis pekan ini di jurnal Nature Communications membongkar skenario terburuk dari dampak Gletser Thwaites terhadap lingkungan kita. Akibat perubahan iklim, gletser ini berpotensi menyumbang kenaikan muka laut global hingga 30 milimeter (1,2 inci) pada tahun 2100 mendatang, bahkan jika pemanasan bumi ditahan di level saat ini.
Angka ini melonjak drastis dibandingkan hitung-hitungan model lapisan es konvensional sebelumnya yang cuma berani mematok angka 15 milimeter. Kalau dibiarkan, ambruknya Gletser Kiamat ini benar-benar bisa menjadi mimpi buruk yang menenggelamkan jutaan rumah.
Alasan Ngerinya Julukan Gletser Kiamat
Bukan tanpa alasan bongkahan es ini punya nama yang bikin merinding. Area Gletser Thwaites membentang luas hingga 192.000 kilometer persegi di wilayah Antartika Barat, kira-kira lebih besar dari keseluruhan negara bagian Florida di Amerika Serikat. Bersama tetangganya, Gletser Pine Island,
Thwaites ibarat “pintu gerbang” pertahanan raksasa yang menahan aliran es daratan agar tidak langsung tumpah ke lautan lepas.
Saat ini saja, gletser raksasa tersebut sudah bertanggung jawab atas 4 persen dari total kenaikan muka laut global. Sejak tahun 2000, Gletser Thwaites tercatat sudah kehilangan lebih dari 1 triliun ton es, dan terus menyusut sekitar 50 miliar ton setiap tahunnya.
Misteri Pemompaan Pasang Surut Air Hangat
Faktor utama penyebab bencana pencairan cepat ini ada di zona landasan (grounding zone), yaitu titik transisi di mana es yang tadinya bersandar di dasar batuan mulai mengapung di atas laut. Air laut yang terus menghangat akibat emisi bahan bakar fosil menyusup masuk jauh ke bawah lapisan es.
Mattia Poinelli, ilmuwan proyek di University of California, Los Angeles (UCLA) sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa daya hancur fenomena ini sering kali luput dari pemantauan konvensional.
“Proses pemompaan pasang surut (tidal pumping) memungkinkan air hangat menjangkau bagian bawah es yang jauh lebih dalam, dan memicu pencairan yang sangat intensif,” ungkap Poinelli.
Pemodelan AI dan simulasi canggih terbaru dari UCLA ini juga membunyikan alarm bahaya tambahan. Ada peluang sekitar 60 persen bahwa pada tahun 2100, Gletser Thwaites bakal terlepas seutuhnya dari Punggung Mouginot, struktur fondasi bawah laut yang selama ini menahan laju pergerakannya. Parahnya lagi, skenario copotnya fondasi penahan ini bisa saja terjadi lebih awal di akhir era 2030-an.
Jika batas pertahanan terakhir itu jebol, laju kemunduran gletser tak akan terbendung lagi. Risiko luapan air laut dan banjir ekstrem bagi masyarakat di seluruh garis pantai dunia dipastikan akan melampaui semua prediksi yang pernah dibuat sebelumnya.

