NEW YORK – Fenomena super El Niño yang sedang berkembang pada 2026 disebut telah melampaui sejumlah rekor El Niño sebelumnya, meski puncak kekuatannya diperkirakan baru terjadi beberapa bulan mendatang.
Pakar iklim James Hansen dari Columbia University, New York, menyebut indikator suhu laut di Pasifik tropis timur telah menunjukkan tingkat ekstrem yang melampaui super El Niño 1997-1998. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan kekuatan fenomena yang belum mencapai puncaknya.
“El Niño telah berkembang pesat dan berada di tingkat yang sangat ekstrem. Ukuran standar El Niño telah melampaui level rekor sebelumnya dalam sejarah pencatatan data yang akurat, meskipun dampak terparahnya baru akan terasa beberapa bulan mendatang,” kata Hansen, Jumat (21/8/2026).
Hansen menggunakan kenaikan suhu air laut hingga kedalaman 300 meter di Pasifik tropis timur sebagai salah satu ukuran utama kekuatan El Niño. Menurut dia, lonjakan suhu pada kedalaman tersebut di Samudra Pasifik Khatulistiwa telah melewati rekor super El Niño 1997-1998.
“Ukuran acuan yang kami pilih, yaitu lonjakan suhu panas pada kedalaman 300 meter di Samudra Pasifik Khatulistiwa, sudah melampaui rekor super El Niño tahun 1997-98,” ungkapnya.
Ukuran lain yang lebih umum digunakan adalah indeks Niño3.4, yang menghitung kenaikan suhu permukaan laut Samudra Pasifik dari kondisi rata-rata di wilayah tertentu. Hansen menyebut indeks tersebut juga telah menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya.
Namun, Adam Scaife dari badan cuaca nasional Inggris, Met Office, memberikan penilaian berbeda terhadap indeks Niño3.4. Dia menyebut suhu di wilayah tersebut saat ini sekitar 2 derajat Celsius di atas normal, masih di bawah puncak El Niño 1997/1998 yang mencapai sekitar 2,5 derajat Celsius.

