Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin pagi, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terpantau hingga ketinggian 15.000 kaki dan 50.000 kaki.
Kondisi tersebut masih berpotensi memengaruhi jalur penerbangan. Karena itu, penyesuaian operasional bandara dan penerbangan dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan sebaran abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan.
Untuk menjaga konektivitas dan mencegah penumpukan penumpang, Kemenhub menyiapkan enam bandara alternatif yang dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi operasional.
Enam bandara tersebut yakni Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo dan Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta dan Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat.
“Kami mengimbau kepada seluruh maskapai baik luar maupun dalam negeri untuk menggunakan bandara-bandara alternatif yang sudah disiapkan,” kata Dudy.
Menurut dia, penggunaan bandara alternatif diharapkan dapat menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan berangkat, sehingga pengaturan pelayanan kepada penumpang dapat dilakukan secara optimal.
Penggunaan bandara alternatif tetap menyesuaikan kondisi operasional, kesiapan bandara, rute penerbangan, serta keputusan masing-masing maskapai.
Kemenhub juga berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, dan instansi terkait untuk menangani dampak penutupan serta memastikan penyesuaian operasional berlangsung aman.
Jika kondisi memungkinkan untuk membuka kembali bandara yang terdampak, pengelola masih harus melakukan sejumlah persiapan sebelum penerbangan kembali dioperasikan.
Persiapan tersebut meliputi pembersihan runway, taxiway, dan apron dari abu vulkanik untuk memastikan fasilitas bandara siap digunakan.
Kemenhub mengimbau masyarakat yang akan bepergian menggunakan pesawat memastikan status penerbangannya kepada maskapai sebelum menuju bandara.
Penumpang yang terdampak juga diminta mengikuti arahan maskapai terkait perubahan jadwal maupun pengalihan penerbangan. Status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi keselamatan penerbangan.

