Jakarta, Rasional.co – Batik tidak harus tinggal di lemari sebagai pakaian tradisional. Motifnya kini masuk ke fesyen siap pakai, aksesori, dan produk gaya hidup, sementara teknologi digital digunakan untuk mengeksplorasi desain hingga menjangkau konsumen baru.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga batik tetap relevan di tengah perubahan selera konsumen dan perkembangan teknologi. Kementerian Perindustrian menilai pengembangan batik perlu mempertemukan tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar.
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Kemenperin Syukur Idayati mengatakan batik memiliki ekosistem industri yang tersebar di berbagai daerah. Berdasarkan data Kemenperin, terdapat sekitar 5.946 industri batik dan lebih dari 200 sentra batik di 11 provinsi dengan tenaga kerja sekitar 47 ribu orang.
Menurut Idayati, pengembangan produk menjadi salah satu cara memperluas ruang batik di tengah perubahan kebutuhan konsumen. Batik dapat dikembangkan menjadi produk ready-to-wear, aksesori, maupun berbagai produk gaya hidup yang berkaitan dengan rantai nilai fesyen.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan pasar. Nilai ekspor batik meningkat dari USD15,20 juta pada 2024 menjadi US$20,14 juta pada 2025 atau tumbuh 32,5 persen, sementara pada Semester I 2026 tercatat sebesar USD4,39 juta.
Di sisi lain, teknologi digital mulai digunakan dalam berbagai tahapan pengembangan batik, mulai dari eksplorasi motif dan desain hingga pemasaran serta perluasan akses pasar. Teknologi tersebut tidak harus menggantikan proses tradisional yang menjadi karakter utama batik.
Pandangan itu tercermin dalam pengalaman Rumah Batik Jawa Timur yang menjalankan usaha batik tulis secara turun-temurun selama tiga generasi. Founder Rumah Batik Jawa Timur Syarif Usman mengatakan teknologi digital dapat digunakan untuk mengeksplorasi desain tanpa menggantikan proses utama pembuatan batik tulis.
“Digital bukan pengganti tradisi, tapi sebagai salah satu alat untuk menjaganya tetap hidup,” ujarnya.
Menurut Syarif, keberlanjutan batik juga bergantung pada regenerasi pelaku dan pengetahuan membatik. Rumah Batik Jawa Timur memberikan pelatihan batik tradisional kepada 700 sekolah dasar di Surabaya bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Upaya tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan keterampilan dan nilai budaya batik kepada generasi muda. Dengan demikian, keberlanjutan batik tidak hanya berkaitan dengan produk yang dibeli konsumen, tetapi juga pengetahuan yang diteruskan kepada generasi berikutnya.
Pendekatan serupa terlihat pada jenama lokal Ulur Wiji melalui konsep UpliftingWear. Ulur Wiji memadukan material alami, teknik kriya tradisional, dan desain kontemporer untuk menghasilkan produk fesyen yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Founder & COO Ulur Wiji Nasta Rofika mengatakan pengembangan produk juga melibatkan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam penguatan keterampilan kriya. Pendekatan tersebut mempertemukan pengembangan kapasitas generasi penerus dengan produk fesyen yang membawa karakter kriya Indonesia ke bentuk lebih modern.
Kemenperin terus mendorong pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengembangan industri batik, termasuk desain, produksi, dan pemasaran. Upaya tersebut diarahkan agar batik tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus memiliki ruang dalam perkembangan gaya hidup generasi masa kini.
Bagi industri batik, tantangannya bukan semata mempertahankan bentuk yang sudah dikenal. Keberlanjutan juga bergantung pada kemampuan memperkenalkan batik melalui produk, teknologi, dan pengalaman yang tetap membawa nilai tradisi kepada generasi berikutnya.

