JAKARTA – Ramainya perdebatan terkait peran pemain lokal dan diaspora di Timnas Indonesia akhirnya mendapat jawaban tegas dari sang pelatih kepala, John Herdman. Usai sukses membungkam Singapura 2-0 di ASEAN Cup 2026, ia menegaskan bahwa siapa pun yang berseragam merah putih adalah satu kesatuan skuad Garuda tanpa pandang bulu.
Pernyataan ini sekaligus meredam polemik usai timnas merumput dengan starting eleven yang seluruhnya diisi oleh pemain naturalisasi.
Kemenangan dramatis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Jumat lalu rupanya memicu obrolan panas di kalangan suporter soal status pemain lokal dan diaspora. Merespons sorotan tersebut, John Herdman selaku nakhoda Timnas Indonesia meminta semua pihak untuk segera membuang jauh-jauh pola pikir yang membeda-bedakan asal-usul pemain.
Bagi pelatih cerdik ini, setiap penggawa skuad Garuda memikul tanggung jawab yang persis sama, menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, dan berjuang mati-matian demi lambang di dada.
Herdman secara blak-blakan menepis anggapan adanya kubu-kubuan di dalam ruang ganti skuad Merah Putih.
“Saya pikir tidak ada perbedaan antara pemain lokal. Tidak ada pemain lokal, tidak ada diaspora. Kami adalah Indonesia. Kami mewakili bendera, kami menyanyikan lagu kebangsaan, dan kami berdiri bersama setiap saat,” ungkap Herdman.
Mentalitas Bertarung Lebih Penting dari Asal-Usul
Menurut pelatih berusia 51 tahun tersebut, kriteria utama masuk tim inti bukanlah soal di mana seorang pemain itu lahir, melainkan seberapa besar nyali dan komitmen mereka saat menginjakkan kaki di lapangan hijau. Ia menantang siapa pun untuk melihat sendiri bagaimana etos kerja para pemain keturunan ini saat bertanding membela negara.
“Ini adalah susunan pemain yang ingin mewakili negara ini, yang bersedia naik pesawat dan bekerja keras, melakukan tekel 50-50, bermain dengan semangat, api, dan hati untuk para suporter di sini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Herdman menambahkan bahwa kritik soal status pemain baru masuk akal apabila mereka tampil setengah hati, malas-malasan, atau tidak menunjukkan daya juang saat diberi kepercayaan turun ke lapangan.
“Orang-orang ini sekarang adalah orang Indonesia. Mereka senang bermain untuk kalian. Dan ketika mereka mulai menghindari tekel, ketika mereka berhenti berlari dalam pertandingan, barulah Anda bisa mempertanyakan hal itu,” pungkasnya.
Dengan ketegasan ini, sang pelatih berharap fans sepak bola Tanah Air bisa kembali bersatu memberikan dukungan penuh, tanpa lagi meributkan label lokal maupun diaspora di tubuh Timnas Indonesia.

