Close Menu
rasional.corasional.co
    What's Hot

    Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin

    September 1, 2026

    PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online

    Agustus 31, 2026

    Film Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas

    Agustus 31, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin
    • PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online
    • Film Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas
    • Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Akhir Perjalanan Sang Legenda
    • Pecahkan Rekor Transfer, Liverpool Resmi Boyong Bradley Barcola dari PSG
    • Persik Kediri Dukung Penghapusan Regulasi Pemain U23 di Super League 2026/2027
    • Mees Hilgers Resmi Pindah ke SC Heerenveen, Siap Buka Lembaran Baru di Eredivisie
    • Darurat Sepak Bola Indonesia! 28 Klub Masih Berutang Rp14,8 Miliar ke Pemain, Siapa Saja?
    Facebook X (Twitter) Instagram
    rasional.corasional.co
    Login
    Selasa, September 1
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    rasional.corasional.co
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    Beranda » PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online
    Nasional

    PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online

    ADNBy ADNAgustus 31, 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Telegram Copy Link
    Dok: (Ist).
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    JAKARTA – Universitas Nasional (Unas) resmi meluncurkan Pusat Studi Gender dan Perlindungan Hak Anak (PSG-PHA) sebagai wadah penelitian, edukasi, dan pengabdian masyarakat untuk memperkuat perlindungan perempuan dan anak, termasuk menghadapi kekerasan berbasis gender di ruang digital.

    Kegiatan Sarasehan dan Launching PSG-PHA Unas digelar di Jakarta, Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Dr. Maria Ulfah Anshor, M.Si., Ketua Komnas Perempuan; Ai Maryati Solihah, M.Si., Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI); Prof. Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Unas; serta Hj. Ariza Agustina, S.E., M.Si., Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bidang Perlindungan Perempuan.

    Ketua PSG-PHA Unas, Prof. Dr. Hj. Syamsiah Badruddin, M.Si., mengatakan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan serius di masyarakat. Menurutnya, berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, dan intimidasi masih banyak berkaitan dengan persoalan berbasis gender.

    “Masyarakat kita masih rawan dalam hal kekerasan perempuan, kekerasan terhadap anak, diskriminasi, intimidasi, semuanya itu banyak yang berkaitan dengan apa yang berbasis gender. Ujung-ujungnya yang paling banyak mengalami penderitaan atau menanggung risiko itu adalah perempuan dan anak.”

    Kata Prof. Syamsiah.

    Prof. Syamsiah menjelaskan, pembentukan PSG-PHA Unas didorong komitmen untuk memperjuangkan keadilan dan pemenuhan hak perempuan serta anak. Ia menilai keberadaan pusat studi gender di perguruan tinggi penting karena persoalan tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab satu lembaga, melainkan berkaitan dengan kepentingan bangsa.

    PSG-PHA Unas juga akan membangun kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Komnas Perempuan, dan KPAI dalam upaya memperkuat perlindungan perempuan dan anak.

    Di tengah perkembangan teknologi digital, Syamsiah menilai edukasi dan literasi digital menjadi hal penting bagi perempuan, anak, remaja, dan mahasiswa. Masyarakat perlu memahami cara menggunakan teknologi secara aman dan etis serta tetap menghargai martabat sesama manusia.

    Prof. Syamsiah juga menyoroti meningkatnya angka laporan kekerasan dari tahun ke tahun. Menurutnya, peningkatan angka tersebut tidak selalu berarti jumlah kasus mengalami peningkatan secara signifikan.

    “Meningkatnya angka kekerasan setiap tahun bukan berarti tidak selamanya berarti peningkatan kasus. Boleh jadi data itu meningkat karena adanya keberanian para korban untuk melaporkan kasusnya kepada yang berwenang.”

    ungakapnya.

    Lebih lanjut, meningkatnya keberanian korban untuk melapor justru dapat membantu mengungkap persoalan yang sebelumnya tidak terlihat. Dengan semakin banyak data yang diperoleh, intervensi kebijakan untuk menangani akar persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak juga akan lebih mudah dilakukan.

    Sebagai langkah awal, PSG-PHA Unas akan menjalankan program RW binaan di sekitar kampus. Wilayah tersebut akan menjadi lokasi penelitian, sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap kekerasan.

    Program tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, sehingga kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat dapat dilakukan secara bersamaan.

    “Dengan adanya RW-RW binaan ini, semua kegiatan dharma tadi itu bisa dilakukan secara bersamaan di suatu lokasi.”

    tambahnya.

    Ia mengatakan pemilihan wilayah binaan akan dimulai dari lingkungan sekitar kampus dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan dan kerentanan masyarakat terhadap persoalan perempuan dan anak.

    Kekerasan Berbasis Gender Online Makin Marak

    Sementara itu, Ketua Pelaksana Sarasehan dan Launching PSG-PHA Unas Nieke Monika Kulsum, Ph.D., mengatakan pembentukan pusat studi tersebut juga dilatarbelakangi oleh semakin maraknya kekerasan berbasis gender online atau KBGO.

    Menurut Nieke, kekerasan di ruang digital memiliki banyak pelaku maupun korban. Namun, kasus-kasus tersebut belum seluruhnya terangkat di media massa.

    “Kekerasan berbasis gender online sudah mulai banyak, sedang marak. Pelakunya ada dan korbannya juga banyak, cuma jarang ter-update di media massa.”

    kata Nieke.

    Nieke mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan PSG-PHA Unas akan mendorong penelitian untuk mengetahui persoalan yang dihadapi korban sekaligus mencari solusi, termasuk melalui pendidikan dan literasi.

    Ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan, khususnya ibu, dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Menurutnya, penggunaan gadget dan media sosial tanpa pendampingan dapat menciptakan kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak.

    “Peran perempuan sebagai seorang pendidik anak-anaknya penting dalam memberitahu kepada anak mana yang bisa dipelajari atau bisa diambil dari kemajuan media sosial, kemajuan internet dan mana yang sebaiknya dihindari.”

    pungkasnya.

    Dalam jangka pendek, Nieke mengatakan PSG-PHA Unas akan memperkuat konsolidasi internal sebelum memperluas program kepada masyarakat. Salah satu rencana yang disiapkan adalah menghadirkan ruang perlindungan bagi perempuan dan anak di lingkungan sekitar kampus.

    Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan ruang aman bagi perempuan dan anak yang selama ini masih takut atau belum berani menceritakan kekerasan yang dialaminya.

    Ke depan, keberadaan PSG-PHA Unas diharapkan tidak hanya menghasilkan penelitian dan publikasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak.

    Kekerasan perempuan Kementerian PPPA Komnas Perempuan KPAI PSG-PHA Unas Unas
    Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleFilm Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas
    Next Article Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin
    ADN

    Related Posts

    Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin

    September 1, 2026

    Orangutan Pingsan di Kebun Sawit Ketapang Akibat ASAP Karhutla, Tim Relawan Turun Tangan

    Agustus 31, 2026

    Mitigasi Karhutla, Kementerian Kehutanan Tutup Sementara 9 Taman Nasional

    Agustus 31, 2026

    Drama Kasus Ruben Onsu Selesai, Kerugian 3,5 Miliar Lunas Tanpa Masuk Bui

    Agustus 31, 2026

    Kebakaran Posko GRIB Jaya di Kebon Jeruk Dini Hari Tadi, Begini Kondisinya

    Agustus 31, 2026

    MenPar Bertemu Pelaku Pariwisata Labuan Bajo, Dorong Pemulihan Pascagempa dan Penguatan Keselamatan

    Agustus 29, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin

    By AlvaroSeptember 1, 2026

    JOMBANG — Nahdlatul Ulama, yang secara harfiah berarti Kebangkitan Ulama, merupakan salah satu organisasi Islam…

    PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online

    Agustus 31, 2026

    Film Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas

    Agustus 31, 2026
    Top Trending

    Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin

    By AlvaroSeptember 1, 2026

    JOMBANG — Nahdlatul Ulama, yang secara harfiah berarti Kebangkitan Ulama, merupakan salah…

    Darurat Sepak Bola Indonesia! 28 Klub Masih Berutang Rp14,8 Miliar ke Pemain, Siapa Saja?

    By AyuAgustus 31, 2026

    JAKARTA – Isi dompet ratusan pesepak bola Indonesia ternyata sedang tidak baik-baik…

    Belajar dari NU dan Muhammadiyah: Demokrasi Bukan Sekadar Memilih Pemenang

    By MartinAgustus 31, 2026

    Demokrasi kerap dipahami sederhana: siapa memperoleh suara terbanyak, dialah yang menang. Padahal,…

    © 2026 RASIONAL.CO
    • Privacy Policy
    • Terms of Service
    • Extra Crunch Terms
    • Code of Conduct

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?