YOGYAKARTA – Setelah memperkuat jejaring akademik melalui sharing knowledge bersama Universitas Gadjah Mada juga Universitas Islam Indonesia pada hari pertama, Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) melanjutkan rangkaian Study Visit Tahun Akademik 2026 dengan mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Monumen Jogja Kembali (Monjali), Rabu (29/7).
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif mahasiswa bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui sejarah, budaya, kepemimpinan, dan identitas bangsa.
Dekan Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI Mayjen TNI Dr. Oktaheroe Ramsi mengatakan pemahaman mengenai pertahanan negara harus dibangun secara utuh. Menurutnya, budaya merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun daya tahan bangsa menghadapi ancaman yang semakin kompleks.
“Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer dan teknologi, tetapi juga melalui penguatan identitas bangsa, karakter nasional, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Oktaheroe dalam courtesy call di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ia menilai Keraton Yogyakarta memiliki posisi strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia. Selain menjadi pusat pelestarian budaya, Keraton juga menjadi ruang pewarisan nilai kepemimpinan, pengabdian, gotong royong, dan persatuan yang hingga kini tetap relevan bagi pembangunan karakter bangsa.
“Dalam perspektif strategi pertahanan modern, budaya merupakan salah satu instrumen soft power yang memperkuat daya tahan bangsa menghadapi ancaman ideologi, disinformasi, radikalisme, hingga degradasi nilai kebangsaan,” ujarnya.
Menurut Oktaheroe, pembelajaran di Keraton menjadi pelengkap dari diskusi akademik yang telah dilaksanakan bersama sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta. Apabila perguruan tinggi memberikan penguatan pada aspek keilmuan, Keraton menghadirkan dimensi sejarah dan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi ketahanan nasional.
Ia menambahkan, filosofi kepemimpinan Jawa yang diwariskan Keraton mengajarkan harmoni, keteladanan, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai tersebut dinilai sejalan dengan konsep bela negara yang menjadi salah satu pilar pendidikan di Universitas Pertahanan.
“Kami berharap kolaborasi antara dunia akademik dan institusi budaya dapat memperkuat pemahaman bahwa pertahanan nasional bukan semata kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan moral, budaya, dan identitas bangsa,” tutur Oktaheroe.
Usai dari Keraton Yogyakarta, rombongan melanjutkan kunjungan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali). Monumen yang dibangun untuk mengenang keberhasilan merebut kembali Yogyakarta melalui Serangan Umum 1 Maret 1949 itu menjadi ruang pembelajaran mengenai sejarah perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Bagi mahasiswa Fakultas Strategi Pertahanan, Monjali tidak hanya menghadirkan koleksi sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana strategi militer, kepemimpinan nasional, diplomasi, dan dukungan rakyat berpadu dalam mempertahankan eksistensi negara pada masa Revolusi Kemerdekaan.

Melalui diorama, arsip sejarah, serta berbagai artefak perjuangan, mahasiswa diajak memahami bahwa kemenangan Indonesia tidak semata ditentukan oleh kemampuan tempur, melainkan juga oleh kemampuan membangun legitimasi politik, semangat kolektif rakyat, dan strategi yang adaptif menghadapi situasi perang.
Rangkaian kunjungan tersebut melengkapi pendekatan experiential learning yang diusung Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI selama pelaksanaan Study Visit di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah memperoleh perspektif akademik melalui diskusi lintas disiplin dengan perguruan tinggi, mahasiswa kini diajak membaca dimensi historis dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan ketahanan nasional.
Melalui kunjungan ke institusi akademik, pusat kebudayaan, hingga situs sejarah perjuangan bangsa, Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI berharap mahasiswa mampu melihat pertahanan negara secara lebih komprehensif, yakni sebagai perpaduan antara kekuatan militer, kapasitas intelektual, kepemimpinan, budaya, dan karakter kebangsaan yang menjadi fondasi utama Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan strategis masa depan.

