BEKASI – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Jaticempaka, Bekasi, seorang pria tampak duduk beristirahat setelah menjalani hari yang panjang. Di sampingnya, sebuah gerobak penuh barang-barang bekas tersusun rapi, hasil dari langkah panjangnya menyusuri jalanan kota sejak pagi.
Pria itu bernama Ahmad (42). Sejak 2007, ia menjalani hidup sebagai penarik gerobak sekaligus pemulung di kawasan Bekasi. Jauh dari kampung halamannya di Cianjur, Ahmad memilih merantau ke kota demi bertahan hidup.
Baginya, keputusan datang ke Jakarta bukan karena tekanan atau keterpaksaan. Semua merupakan pilihan hidup.
“Dari kampung ke sini ya adu nasib aja,” ujar Ahmad.
Setiap hari, Ahmad menyusuri rute tetap di sepanjang kawasan Kalimalang untuk mencari barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual. Barang yang terkumpul kemudian dipilah sebelum dijual kepada pengepul setiap tiga minggu sekali.
Penghasilannya tak menentu. Dalam sehari, Ahmad mengaku paling banyak membawa pulang sekitar Rp50 ribu. Meski begitu, ia tidak banyak mengeluh soal keadaan.
“Cukup nggak cukup, ya dicukupin aja,” katanya.
Kehidupan di jalanan tentu bukan perkara mudah. Panas terik, hujan, hingga rasa lelah menjadi bagian dari kesehariannya. Namun Ahmad tak pernah memandang pekerjaannya sebagai penderitaan.
Sebaliknya, ia menganggap semua yang dijalaninya merupakan konsekuensi dari keputusan yang ia ambil sendiri.
“Capek sih capek, tapi ini risiko buat saya sendiri,” tuturnya.
Di balik kerasnya kehidupan yang dijalani, Ahmad menyimpan alasan besar untuk terus bertahan. Sang anak yang tinggal di Cianjur menjadi sumber semangat terbesar dalam hidupnya. Anak tersebut kini diasuh oleh sang nenek sementara Ahmad berjuang seorang diri di Jakarta.
“Yang semangat itu ya harus ngidupin anak,” ucapnya.
Selama hampir dua dekade bekerja di jalanan, Ahmad mengaku tak banyak mengalami peristiwa luar biasa. Namun satu kejadian kecil masih ia ingat dengan jelas. Sambil tertawa kecil, ia menceritakan momen ketika seekor tikus tiba-tiba melompat keluar saat dirinya membongkar tumpukan sampah.
Meski sederhana, cerita itu menggambarkan bagaimana Ahmad telah terbiasa menghadapi berbagai kejutan dalam kerasnya kehidupan jalanan.
Ketika ditanya soal pesan hidup, Ahmad sempat terdiam sesaat. Pandangannya mengarah ke tumpukan barang bekas di hadapannya, sebelum akhirnya ia menyampaikan pesan sederhana yang terus ia pegang hingga hari ini.
“Yang penting jangan patah semangat dan berusaha,” katanya.
Di usia yang tak lagi muda, Ahmad masih setia mendorong gerobaknya menyusuri jalanan Kalimalang setiap hari. Di balik roda yang terus bergerak, tersimpan kisah tentang tanggung jawab, pilihan hidup, dan perjuangan seorang ayah yang memilih untuk tidak menyerah demi anak yang menunggunya di kampung halaman.

