- Megawati mengaku menangis usai menonton film dokumenter tersebut.
- Dia menyoroti pembukaan hutan sawit di Papua.
- Megawati meminta hukum adat dan masyarakat lokal dihormati.
- Film dokumenter itu mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua.
- Puan Maharani menyebut isi film sensitif dan perlu penjelasan lebih lanjut.
YOGYAKARTA – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengaku menangis usai menonton film Pesta Babi yang menyoroti kerusakan hutan adat di Papua. Pernyataan itu disampaikan Megawati dalam forum dialog nasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Megawati menyoroti ekspansi industri dan alih fungsi lahan yang dinilai mengorbankan kawasan hutan adat serta kehidupan masyarakat lokal di Papua. Dia mempertanyakan pembukaan hutan dalam skala besar untuk perkebunan sawit.
“Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya,” kata Megawati.
Presiden RI ke-5 itu menilai masyarakat adat memiliki hak yang harus dihormati dalam pengelolaan wilayah dan sumber daya alam.
“Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit, untuk apa? Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah,” ujarnya.
Film Pesta Babi Soroti Hutan Adat Papua
Megawati mengatakan pembangunan nasional seharusnya tidak mengabaikan keberadaan komunitas adat dan kelestarian lingkungan.
Menurut dia, arah pembangunan juga harus berkelanjutan dan tidak berubah setiap pergantian pemimpin nasional.
“Mereka minta dihargai, apakah salah?” kata Megawati.
Film tersebut mengangkat perjuangan masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi dalam menghadapi ekspansi proyek strategis nasional di Papua.
Film dokumenter tersebut menyoroti dampak proyek terhadap hilangnya hutan adat dan sumber pangan tradisional warga setempat.
Pemutaran film itu sebelumnya sempat menuai kontroversi di sejumlah daerah. Beberapa agenda pemutaran bahkan dilaporkan mengalami pembubaran karena dianggap sensitif.
Tuai Kontroversi
Ketua DPR RI Puan Maharani turut menanggapi polemik film yang ramai diperbincangkan publik dalam beberapa waktu terakhir.
Puan menyebut isi film memang memuat isu sensitif. Namun dia mengatakan DPR akan meminta penjelasan lebih lanjut dari pihak pembuat film.
Menurut dia, pembahasan mengenai isu lingkungan, masyarakat adat, dan pembangunan perlu dilakukan secara terbuka serta proporsional.
Megawati menegaskan penghormatan terhadap hukum adat dan hak masyarakat lokal harus menjadi perhatian dalam pembangunan nasional.
Dia menilai pembangunan tidak boleh mengorbankan hutan adat dan kehidupan masyarakat lokal demi kepentingan investasi semata.
Melalui sorotan terhadap film Pesta Babi, Megawati berharap persoalan kerusakan lingkungan dan perlindungan masyarakat adat di Papua mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah maupun publik.

