JAKARTA, Rasional.co – Lonjakan kasus campak kembali menempatkan Indonesia dalam sorotan global setelah disebut sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia. Situasi ini mencerminkan kerentanan sistem kesehatan dasar, terutama dalam cakupan imunisasi anak yang belum merata pascapandemi.
Dalam konteks kesehatan publik, campak bukan sekadar penyakit infeksi biasa, melainkan indikator kegagalan perlindungan imunisasi populasi. Ketika cakupan vaksinasi menurun, risiko wabah meningkat dan berdampak langsung pada kelompok rentan, khususnya anak-anak.
Cakupan Imunisasi Turun, Kasus Campak Meningkat
Data World Health Organization dan UNICEF dalam laporan tahun 2023 menunjukkan peningkatan signifikan kasus campak secara global, dengan Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan jumlah kasus tinggi.
Mengutip laporan tersebut, gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19 menyebabkan jutaan anak tidak mendapatkan imunisasi rutin. Hal ini berkontribusi pada meningkatnya jumlah kasus campak di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kondisi tersebut juga tercermin dalam data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mencatat lonjakan kasus campak dan rubella dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2022 hingga 2024, seiring menurunnya cakupan imunisasi dasar lengkap.
“Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi meningkatkan risiko kejadian luar biasa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk campak,” sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan dalam publikasi resmi program imunisasi nasional.
Indonesia dalam Peta Global Kasus Campak
Dalam laporan WHO-UNICEF 2023, Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar (zero-dose children) dalam jumlah besar. Posisi ini berkontribusi terhadap tingginya angka kasus campak secara nasional.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Secara global, WHO mencatat lebih dari 9 juta kasus campak terjadi sepanjang 2021, dengan tren peningkatan berlanjut hingga 2023 akibat ketertinggalan imunisasi.
Bagi Indonesia, posisi sebagai salah satu negara dengan kasus tinggi menunjukkan adanya tantangan struktural, mulai dari akses layanan kesehatan, distribusi vaksin, hingga literasi masyarakat terhadap imunisasi.
Dampak Kesehatan dan Risiko Wabah Lebih Luas
Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Satu kasus dapat menularkan hingga 9 dari 10 individu yang belum memiliki kekebalan. Dampaknya tidak hanya berupa gejala akut, tetapi juga komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga kematian pada anak.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penyakit menular pada anak masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi angka kesakitan di Indonesia, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas.
Dengan meningkatnya mobilitas penduduk, risiko penyebaran campak juga menjadi lebih luas, terutama di kawasan padat penduduk dan wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.
Respons Pemerintah dan Arah Kebijakan
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkuat program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) sebagai langkah untuk mengejar ketertinggalan cakupan vaksinasi.
“Imunisasi adalah upaya paling efektif untuk mencegah penyakit campak dan melindungi anak dari komplikasi serius,” sebagaimana disampaikan dalam kampanye resmi Kementerian Kesehatan terkait percepatan imunisasi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan sistem surveilans dan respons cepat terhadap kejadian luar biasa (KLB) campak di berbagai daerah.
Upaya ini menjadi krusial mengingat tingginya kasus campak tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan ketahanan sistem layanan kesehatan dasar. Ke depan, keberhasilan pengendalian campak akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan imunisasi dan kemampuan menjangkau populasi rentan secara merata.

