Jakarta, Rasional.co – Indonesia menghadapi lonjakan serius diabetes yang kini telah mencapai skala nasional. Peningkatan prevalensi tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi mulai menekan produktivitas tenaga kerja dan memperbesar beban pembiayaan negara.
Kondisi ini menempatkan diabetes sebagai salah satu penyakit tidak menular paling krusial, dengan implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi dan kualitas sumber daya manusia.
Prevalensi Diabetes di Indonesia Melonjak, Mayoritas Tak Terdeteksi
Mengutip publikasi resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 11,7% atau sekitar 32 juta penduduk berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Angka ini meningkat dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018.
Namun, kesenjangan terbesar terjadi pada diagnosis. Prevalensi berdasarkan diagnosis dokter hanya sekitar 2,2%, menandakan sebagian besar kasus belum terdeteksi dalam sistem layanan kesehatan.
“Lebih dari 2/3 orang tidak mengetahui bahwa mereka menderita diabetes. Artinya fenomena diabetes seperti gunung es,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, sebagaimana dilansir dari Kemenkes.
Kondisi ini memperbesar risiko komplikasi karena penanganan umumnya dilakukan pada fase lanjut, ketika biaya pengobatan lebih tinggi dan dampak kesehatan lebih berat.

Gaya Hidup dan Obesitas Dorong Kenaikan Diabetes di Indonesia
Kenaikan kasus diabetes di Indonesia berjalan seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas. Data SKI 2023 mencatat obesitas dewasa mencapai 23,4%, naik dari 21,8% pada 2018.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa mayoritas kasus merupakan diabetes tipe 2 yang berkaitan erat dengan pola hidup.
“Gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, dan obesitas menjadi faktor utama peningkatan diabetes,” sebagaimana dilaporkan dalam publikasi Kemenkes.
Urbanisasi mempercepat perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama peningkatan asupan gula dan makanan olahan. Di sisi lain, aktivitas fisik cenderung menurun, memperbesar risiko penyakit metabolik sejak usia produktif.
Beban Ekonomi Meningkat, Skrining Jadi Kunci Pengendalian
Lonjakan diabetes di Indonesia berdampak langsung pada pembiayaan kesehatan nasional. Data yang dikutip dari Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan beban penyakit tidak menular mencapai Rp24,1 triliun pada 2022.
Cakupan deteksi dini juga masih terbatas. Pemerintah mencatat baru sekitar 33% penduduk menjalani skrining penyakit tidak menular secara rutin.
“Upaya pencegahan jauh lebih efektif menjaga kesehatan daripada mengobati saat jatuh sakit,” ujar Juru Bicara Kemenkes dr. Mohammad Syahril, sebagaimana dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Aceh.
Sebagai respons, pemerintah memperluas program skrining gratis di puskesmas dan memperkuat pendekatan promotif melalui kampanye CERDIK dan PATUH.
Kemenkes juga menyiapkan roadmap pengendalian diabetes nasional yang menitikberatkan pada deteksi dini, perubahan gaya hidup, dan penguatan layanan kesehatan primer.
Tanpa intervensi yang terstruktur, peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia berpotensi menekan produktivitas nasional dan memperbesar tekanan fiskal dalam jangka panjang.

