JAKARTA – Dokter hits sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Gia Pratama Putra, kembali mengingatkan kita semua buat lebih peka terhadap gejala awal Demam Berdarah Dengue (DBD). Langkah ini krusial banget biar kita bisa gerak cepat memberikan penanganan sebelum serangan virus ini memburuk dalam sekejap.
Di hari-hari pertama, mengenali tanda-tanda infeksi virus dengue emang agak tricky. Wujudnya susah dibedakan dari demam penyakit lain karena mirip banget sama flu biasa. Makanya, banyak orang yang merasa ini cuma demam numpang lewat dan kurang menanggapinya secara serius.
“Pada fase awal, DBD kadang sangat sulit dibedakan dari penyakit demam pada umumnya,” ungkap dr. Gia.
Lalu, apa saja ciri-ciri DBD yang bikin badan tepar? Biasanya, pasien akan mengalami:
- Demam tinggi yang datang mendadak.
- Badan terasa menggigil dan sangat lemas.
- Sakit kepala, diiringi nyeri sendi dan otot yang bikin ngilu.
- Rasa mual yang memicu muntah-muntah.
- Tanda-tanda perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, sampai munculnya bintik-bintik merah atau ruam di kulit.
Mengutip panduan medis dari Siloam Hospitals, fase demam awal ini bisa bikin suhu tubuh melonjak drastis mendekati 40 derajat Celsius selama dua sampai tujuh hari penuh.
Masuk hari ketiga sampai ketujuh, suhu tubuh biasanya perlahan turun ke angka normal, sekitar 37,5–38 derajat Celsius. Nah, di sinilah letak jebakannya! Jangan buru-buru lega, karena justru ini yang dinamakan fase kritis DBD.
Di masa genting ini, jumlah trombosit pasien biasanya anjlok drastis dalam waktu singkat. Kalau salah langkah atau telat ditangani, kondisinya bisa berujung pada syok, terganggunya fungsi organ dalam, sampai perdarahan hebat.
“Ini nih yang bikin dengue bahaya banget. Keluarga sering tertipu, mengira demam yang mereda artinya pasien sudah mau sembuh. Padahal di fase itulah kondisi bisa nge-drop dengan cepat,” jelas dr. Gia membeberkan realita di lapangan.
Berbekal pengalamannya di fasilitas kesehatan, dr. Gia menyoroti bahwa keterlambatan penanganan sering kali terjadi karena keluarga gagal mengenali tanda bahaya atau keliru memberikan perawatan mandiri. Pantauan ekstra dari orang rumah itu wajib hukumnya!
Segera cari pertolongan medis atau lari ke IGD kalau pasien mulai menunjukkan red flag berikut ini:
- Sakit perut atau nyeri ulu hati yang luar biasa.
- Muntah terus-menerus tanpa jeda.
- Terjadi perdarahan aktif.
- Tubuh makin lemas tak berdaya.
- Terjadinya penurunan kesadaran atau linglung.
“Penanganan yang gercep dan tepat sasaran itu kunci utama buat mencegah kondisi pasien berkembang jadi lebih gawat,” tambahnya.
Daripada panik saat keluarga tumbang, mending kita putus rantai penularannya dari awal. Penyakit ini disebarkan murni lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Jadi, musuh utamanya jelas si nyamuk bandel ini.
Gimana cara mengatasinya? Jurus paling masuk akal dan terbukti efektif apalagi kalau bukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk lewat 3M Plus. Langkah praktisnya meliputi:
- Menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup rapat semua tandon atau tong air.
- Mendaur ulang barang bekas yang rawan jadi tempat air menggenang.
- Plus: Pakai kelambu atau obat anti-nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta rajin gotong-royong membersihkan lingkungan bareng tetangga.
“Kalau tiap rumah tangga konsisten jalanin 3M Plus, otomatis risiko paparan gigitan nyamuk bakal berkurang jauh. Mulailah perhatikan area rumah dan lingkungan tempat kita beraktivitas setiap hari,” tutup dr. Gia mengingatkan pentingnya kesadaran kolektif.

