JAKARTA – Keberhasilan atlet panjat tebing Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, merengkuh emas Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya sukses mencetak sejarah baru sekaligus memacu ambisinya menembus rekor waktu di bawah enam detik.
Lewat kemenangan dramatis di nomor speed putri ini, ia mengalahkan wakil China dengan catatan waktu 6,062 detik yang otomatis menjadi rekor terbaru ajang bergengsi tersebut. Pencapaian luar biasa ini membuktikan bahwa kualitas atlet kebanggaan Tanah Air makin tak tertandingi di kancah internasional.
Kemenangan super ketat atas Li Juan Deng yang finis tipis di angka 6,064 detik jelas bikin Desak Made Rita Kusuma Dewi makin berapi-api. Bagi sang juara, emas Asian Games Aichi-Nagoya ini bukanlah garis akhir, melainkan batu loncatan empuk untuk mengasah kecepatan maksimal menuju panggung yang lebih besar, yakni Olimpiade LA 2028.
Bayangin aja, beda sepersekian milidetik di papan skor sukses bikin lagu Indonesia Raya berkumandang, sekaligus ngasih sinyal bahaya buat para pesaing lain di nomor speed putri global.
Target Gila: Ambisi Tembus Waktu 5 Detik
Bukannya puas, medali emas ini justru bikin Desak makin haus akan rekor baru. Berlaga di Portmesse Nagoya Exhibition Hall, Jepang, ia tak ragu membagikan ambisi besarnya untuk memangkas waktu agar bisa masuk ke kepala lima (di bawah 6 detik).
“Kayak bikin semangat lagi. Ini sebagai batu loncatan lah, catatan waktu 0,06. Semoga bisa 05,” ungkap Desak usai pertandingan.
Semangat yang menyala ini bukan tanpa alasan. Pencapaian apik di Aichi-Nagoya adalah kepingan puzzle penting untuk rencana jangka panjangnya.
“Dan bantu catatan untuk ke Olimpiade Los Angeles 2028,” tambahnya mantap.
Sebagai catatan, ini merupakan kalung emas Asian Games kedua bagi Desak. Sebelumnya, ia juga sukses merajai nomor speed putri pada Asian Games Hangzhou 2022 lalu.
Tantangan Mental di Format 4 Jalur (Lane)
Meski sudah berstatus veteran juara bertahan, kompetisi tahun ini nyatanya bawa vibes dan tantangan yang agak beda. Kalau di Hangzhou cukup fokus di dua jalur lintasan, aturan main di Aichi-Nagoya memaksa atlet bertarung di sistem empat jalur sekaligus.
Bagi atlet panjat tebing, format ini berarti butuh stamina dan konsentrasi tingkat dewa karena rangkaian start yang harus dilewati jadi lebih panjang.
“Sebetulnya sama sih. Dari venue bagus, cuma perbedaannya ini karena empat lane. Jadi fokusnya lebih lagi daripada dua lane,” jelas atlet kelahiran Bali ini.
“Kalau sebenarnya di dua lane kan empat start sudah lawan menang,” sambungnya.
Persembahan Manis untuk Indonesia
Di balik rekor gila dan medali emas yang berkilau, ada banyak pihak yang jadi support system terkuat sang juara. Desak tak lupa memberikan apresiasi tertinggi buat orang-orang di sekitarnya yang terus mengawal perjalanan kariernya dari bawah hingga mencapai podium tertinggi Asia.
“Untuk diri sendiri sudah bekerja keras. Kemudian kedua orang tua yang selalu mendoakan. Teman-teman juga, teman-teman pelatnas, tim, masyarakat Indonesia, terima kasih banyak doanya. Ini medali emas untuk kita semua,” tutupnya dengan bangga.

