JAKARTA – Persaingan perebutan Ballon d’Or tahun ini semakin memanas setelah munculnya drama Lamine Yamal sindir Kane terkait kriteria pemain terbaik dunia. Menyikapi situasi tersebut,
Harry Kane memberikan balasan super elegan dengan menegaskan bahwa dirinya pantas menjadi kandidat Ballon d’Or terkuat tanpa perlu banyak pamer di media. Kapten Timnas Inggris ini lebih memilih santai dan membiarkan statistik Harry Kane yang luar biasa sepanjang musim lalu berbicara dengan sendirinya di mata para pemilih.
Bursa taruhan pemenang Ballon d’Or bulan depan memang menempatkan bomber Bayern Munchen ini di posisi favorit. Wajar saja, ia sukses mencetak 73 gol dalam semusim, sebuah rekor gila yang cuma pernah dikalahkan oleh Lionel Messi (82 gol) pada musim 2011-2012 silam.
Menariknya, pencapaian ini sepertinya bikin gerah pesaing lain seperti bintang muda Barcelona, Lamine Yamal (19). Yamal sempat melempar kritikan tipis dengan menyebut kalau trofi bergengsi ini harusnya jatuh ke tangan pemain terbaik secara keseluruhan, bukan sekadar buat mereka yang cuma bisa “mencetak 80 gol”.
Apalagi, bintang Prancis Kylian Mbappe juga sudah terang-terangan nunjukin ambisinya buat menang. Menghadapi psywar dari para kandidat Ballon d’Or lainnya ini, Kane justru ngasih jawaban yang bikin adem.
Balasan Berkelas Harry Kane
Meski diserang secara halus oleh pesaingnya, Kane memilih untuk tidak terpancing emosi. Jelang penutupan voting pada hari Senin dan pengumuman pemenang di London bulan depan, ia memberikan pandangannya soal fenomena pemain yang doyan mempromosikan diri sendiri.
“Semua orang berhak ngelakuin apa yang mereka mau dalam situasi seperti ini,” ungkap Kane. “Jelas, Ballon d’Or jadi makin besar dan heboh beberapa tahun terakhir, apalagi karena pengaruh media sosial, semua keriuhan, dan obrolan soal itu,” jelas Kane.
Alih-alih ikut perang kata-kata, Kane tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Ia tahu betul kualitas dirinya, tapi menolak untuk menyombongkannya di depan publik.
“Kalau dari sudut pandangku, memang bukan kepribadianku buat membicarakan diri sendiri dengan cara (pamer) seperti itu. Aku tetap sangat bangga dengan apa yang udah aku capai. Secara prinsip, aku tahu apa yang aku raih tahun lalu itu sama bagusnya dengan pencapaian siapa pun. Jadi, aku juga nggak mau merendah. Tapi pada akhirnya, mindset-ku adalah terus maju (fokus ke depan),” jelasnya.
Tantangan Psikologis dan Keyakinan Menang
Kane juga curhat soal betapa anehnya timing penghargaan Ballon d’Or ini. Di saat para pemain sudah harus fokus menatap musim yang baru, mereka terus-terusan ditanya soal prestasi musim lalu. Meski begitu, ia nggak menampik kalau memenangkan trofi bola emas ini adalah impian besarnya.
“Aku rasa aku pasti masuk dalam bursa persaingan buat menang, tanpa ragu. Waktu yang akan menjawab, para voters bakal milih siapa yang mereka rasa pantas,” tegasnya penuh percaya diri.
Terkait apakah manuver wawancara sana-sini dari kandidat lain bakal memengaruhi hasil, Kane mengaku nggak ambil pusing. Ia percaya para pemilik suara punya data dan statistik yang cukup buat menentukan pemenang yang sah.
“Menurutku, aku bakal jauh lebih bangga kalau orang lain yang ngomongin aku—entah itu rekan setim, mantan pemain, atau siapa pun yang ngasih pujian atas pencapaianku. Itu bikin aku jauh lebih bangga daripada harus repot ngomongin diri sendiri,” pungkasnya.
Sebagai catatan, Inggris sudah lumayan lama puasa gelar di ajang ini. Terakhir kali ada pemain asal Britania Raya yang sukses membawa pulang trofi Ballon d’Or adalah Michael Owen, tepat 25 tahun yang lalu pada tahun 2001. Pertanyaannya, mampukah Harry Kane mengakhiri kutukan seperempat abad tersebut? Kita tunggu saja hasilnya bulan depan!

