- Spanduk bertuliskan surat permohonan maaf muncul di gerbang UGM.
- Isi spanduk menyinggung terpilihnya Prabowo-Gibran.
- UGM menegaskan spanduk itu bukan sikap resmi kampus.
- Pihak kampus menurunkan baliho karena melanggar aturan pemasangan.
- BEM UGM menyebut spanduk muncul dari keresahan mahasiswa.
YOGYAKARTA – Spanduk UGM bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” muncul di gerbang Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis(21/5/26). Tulisan tersebut langsung menarik perhatian publik setelah fotonya beredar luas di media sosial.
Dalam isi baliho itu, UGM disebut meminta maaf karena membiarkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024-2029. Pada bagian bawah spanduk juga tertulis kalimat “Hormat kami, Universitas Gadjah Mada”.

Berdasarkan pantauan di lokasi, spanduk tersebut sudah tidak terlihat lagi pada Kamis siang. Pihak kampus kemudian memberikan penjelasan terkait kemunculan media protes tersebut.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, membenarkan bahwa baliho itu sempat terpasang di area gerbang masuk kampus. Namun, dia menegaskan tulisan tersebut bukan dipasang oleh universitas dan tidak mewakili pandangan resmi kampus.
“Meski mengatasnamakan UGM, baliho tersebut tidak dipasang oleh UGM dan tidak mewakili pandangan resmi UGM,” tulis Made Andi dalam keterangannya seperti dikutip CNN Indonesia.
Spanduk UGM Diturunkan Pihak Kampus
UGM menyebut banner tersebut mencatut identitas universitas dan tidak memenuhi ketentuan penggunaan ruang kampus.
Menurut Made Andi, kampus tetap menghormati kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi masyarakat. Namun, penyampaian pendapat tetap harus mematuhi aturan penggunaan fasilitas kampus.
Karena itu, pihak universitas akhirnya menurunkan spanduk UGM dari area gerbang utama kampus.
“Baliho tersebut telah diturunkan karena lokasi pemasangan tidak sesuai dengan peruntukan pemasangan media informasi di area kampus,” ujarnya.
Pernyataan resmi universitas muncul setelah polemik spanduk tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
Spanduk UGM Disebut Bentuk Keresahan Mahasiswa
Secara terpisah, Pelaksana Tugas Ketua BEM UGM 2026 Sheron Adam Funay mengatakan spanduk itu dipasang oleh kelompok akar rumput kampus sebagai bentuk keresahan bersama.
Sheron menyebut BEM UGM mendukung aksi tersebut karena dianggap lahir dari situasi sosial dan ekonomi yang dirasakan mahasiswa maupun masyarakat.
Menurut dia, kondisi ekonomi nasional saat ini memunculkan ketidakpastian dan memengaruhi tingkat kepercayaan publik.
“Kampus sebagai ruang hidup kaum akademis selayaknya dan sepantasnya dibebaskan dalam berekspresi,” kata Sheron.
Dia menilai keresahan mahasiswa tidak muncul dari ruang kosong. Meski demikian, Sheron berharap kampus memiliki sikap lebih tegas terhadap kebijakan pemerintah.
Polemik spanduk UGM itu kini memicu perdebatan mengenai batas kebebasan berekspresi di lingkungan kampus dan ruang kritik terhadap pemerintah.

