JAKARTA – Netflix resmi menghidupkan kembali kisah legendaris ‘Man on Fire’ melalui serial thriller aksi terbaru. Adaptasi novel karya AJ Quinnell ini menampilkan Yahya Abdul-Mateen II sebagai pemeran utama. Karakter ikonik John Creasy kini menjelma sebagai mantan kontraktor CIA yang mengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akut akibat kegagalan operasi mematikan masa lalu.
Kehadiran serial ini membawa angin segar dengan pendekatan cerita yang jauh lebih gelap, modern, dan sarat intrik politik internasional jika kita bandingkan dengan versi layar lebar tahun 2004 silam.
Kehidupan kelam dan ketergantungan alkohol Creasy mendadak berubah total saat menerima mandat untuk melindungi Poe. Remaja perempuan tersebut merupakan putri kandung dari sahabat lamanya di militer, Paul Rayburn.
Keadaan berubah menjadi bencana besar ketika sebuah serangan bom misterius merenggut nyawa Paul beserta seluruh keluarganya. Tragedi berdarah ini memaksa Creasy menyeret kembali dirinya ke dalam pusaran kekerasan demi menjalankan misi balas dendam pribadi, sekaligus melindungi Poe sebagai saksi kunci satu-satunya.
Konspirasi Global dan Pengkhianatan Berdarah di Rio de Janeiro
Misi perburuan tanpa ampun ini membawa Creasy masuk jauh ke dalam labirin konspirasi transnasional. Penyelidikan mandiri tersebut membongkar keterlibatan sindikat kriminal kelas kakap di Rio de Janeiro, pejabat tinggi CIA, hingga otoritas pemerintahan Brasil. Ketegangan cerita mencapai titik didih tertinggi sewaktu Creasy menemukan fakta mengerikan tentang pengkhianatan rekan lamanya di intelijen.
“Karakter John Creasy dalam versi serial ini memiliki lapisan emosi yang sangat tebal. Penonton akan menyaksikan bagaimana seorang pria hancur berjuang melawan trauma masa lalu, sekaligus menghadapi konspirasi tingkat tinggi di sekitarnya,” ujar perwakilan tim produksi Netflix dalam keterangan resminya.
Sisi Humanis di Balik Ledakan dan Aksi Brutal
Selain menyajikan rentetan aksi baku tembak brutal dan ledakan masif sepanjang episode, ‘Man on Fire’ versi Netflix menaruh perhatian besar pada dinamika psikologis karakternya. Narasi cerita berfokus pada upaya penebusan dosa seorang prajurit yang kehilangan arah hidup.
Karakter Henry Tappan, aktor Scoot McNairy yang menjadi lawan main Abdul-Mateen II, sukses memperkuat ketegangan lewat konflik internal agen rahasia. Kombinasi drama emosional dan laga spionase ini siap memikat jutaan pasang mata penonton di seluruh dunia.

