JAKARTA – Tim nasional Prancis memikul status favorit saat bersiap menghadapi Senegal pada laga pembuka Grup I di New York New Jersey Stadium.
Meski demikian, bayang-bayang kelam turnamen edisi 2002 di Korea Selatan-Jepang kini kembali menghantui skuad asuhan Didier Deschamps. Saat itu, Senegal mengejutkan dunia dengan menumbangkan Prancis selaku juara bertahan lewat gol tunggal Papa Bouba Diop.
Trauma Kutukan Tim Afrika
Prancis mengantongi rekam jejak buruk setiap kali bersua wakil benua hitam. Berdasarkan data statistik, tim peringkat tiga FIFA ini menelan tiga kekalahan dari empat laga fase grup terakhir melawan tim asal Afrika.
Setelah tragedi Senegal pada 2002, Afrika Selatan menumbangkan Les Bleus 2-1 pada 2010, lalu Tunisia menekuk mereka 1-0 pada Piala Dunia 2022. Satu-satunya kemenangan Prancis terjadi saat mengalahkan Togo 2-0 pada edisi 2006.
Pelatih Senegal saat ini, Pape Thiaw, merupakan bagian dari skuad legendaris 2002. Thiaw memahami betul cara meruntuhkan mental raksasa Eropa tersebut.
“Kami membawa semangat 2002 ke lapangan. Sejarah membuktikan Prancis bisa dikalahkan, dan kami siap menciptakan kejutan baru,” ujar pelatih Senegal, Pape Thiaw dalam sesi konferensi pers.
Prediksi Superkomputer Jagokan Les Bleus
Meski sejarah berpihak pada Senegal, simulasi superkomputer Opta tetap menempatkan Prancis di atas angin. Prediksi teknologi ini menunjukkan angka kemenangan 64,8 persen untuk keunggulan juara dunia dua kali tersebut. Sementara itu, peluang kemenangan Senegal hanya menyentuh angka 14,9 persen, dengan sisa opsi imbang sebesar 20.3 persen.
Secara keseluruhan, analisis data menempatkan Prancis sebagai calon kuat juara grup dengan probabilitas mencapai 59,9 persen. Kolektor dua gelar juara dunia ini juga memiliki peluang 95,6 persen untuk melenggang ke babak gugur.
Opta bahkan menempatkan Prancis sebagai kandidat juara kedua paling potensial setelah Spanyol, dengan persentase sebesar 13,5 persen. Di sisi lain, Senegal mengantongi peluang lolos fase grup sebesar 60,9 persen

