Jakarta, Rasional.co – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan akurasi data penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG). Penegasan tersebut disampaikan saat melakukan inspeksi mendadak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cadek, Baitussalam, Banda Aceh, Rabu (14/10/2026) dini hari.
Dalam sidak tersebut, Sudaryono meninjau ruang persiapan, produksi, penyimpanan, hingga pemorsian untuk memastikan operasional SPPG berjalan sesuai ketentuan. Ia mengatakan, kunjungan itu bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan petugas menjalankan tugas sekaligus memberikan dukungan kepada pelaksana program.
“Dan saya datang ke sini bukan untuk marah-marah, gitu enggak. Tapi kita untuk memastikan, menyemangati kamu (red: Kepala SPPG) dan pasukan kita semua yang ada di seluruh Indonesia,” ujar Sudaryono.
Selain memeriksa fasilitas, Sudaryono menyoroti kesesuaian data penerima manfaat dengan informasi yang tercatat dalam sistem. Menurut dia, sekolah yang belum memiliki nomor induk sekolah perlu memperbarui data melalui kementerian terkait sebelum dapat dilayani program MBG.
“Ada sekolah-sekolah yang belum ada nomor induk sekolahnya, ya kita enggak bisa layani. Dia harus meng-update nomor induk sekolahnya. Di mana? Kalau dia di sekolah negeri atau swasta ke Kementerian Dikdasmen, kalau madrasah atau pondok pesantren ke Kementerian Agama,” jelasnya.
Sudaryono mengatakan, kelengkapan data diperlukan agar pelaksanaan MBG dapat dipantau dan dampaknya terhadap penerima manfaat bisa diukur. Evaluasi tersebut tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan makanan bergizi, tetapi juga perkembangan kondisi fisik peserta didik dan indikator lain, termasuk kehadiran di sekolah.
“Karena impact yang kita inginkan adalah perbaikan gizi, pertumbuhan yang baik, dilihat secara fisik, berat badan, tinggi badan, termasuk juga ada output termasuk kehadiran,” tegasnya.
Ia juga menyebut program MBG dapat berdampak pada peningkatan kehadiran siswa. Sudaryono mencontohkan pengalamannya saat mengunjungi sebuah sekolah di Palembang, yang menurut dia mencatat kenaikan kehadiran dari sekitar 60 persen menjadi 95 persen setelah program MBG berjalan.
“Saya pernah datang di satu sekolah di Palembang, itu tingkat kehadirannya sekitar 60-an persen. Setelah ada MBG, tingkat kehadirannya naik 95%. Jadi ini ada impact, ada output yang baik, ada hasil yang baik, gitu,” pungkas Sudaryono.
Contoh tersebut disampaikan Sudaryono sebagai gambaran dampak yang perlu diperhatikan dalam evaluasi program. Namun, data dalam siaran pers tersebut tidak memuat rincian sekolah yang dimaksud maupun angka pembanding dari sekolah lain.
Pengawasan operasional dan pembenahan data menjadi dua aspek yang disoroti dalam sidak SPPG Cadek. Keduanya berkaitan dengan upaya memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai ketentuan serta manfaat program dapat dipantau melalui indikator yang terukur.

