2. Yang Tak Kunjung Padam
Kalau kamu lebih suka gaya nonfiksi, buku sejarah yang satu ini wajib dilirik. Isinya merekam dengan tajam ingatan para eksil politik Indonesia yang terbuang pasca-peristiwa 1965. Gara-gara dicap sebagai komunis, paspor mereka dicabut paksa sehingga kehilangan kewarganegaraan. Di sini, kamu bisa melihat ironi nasib orang-orang yang terpaksa menua di luar negeri selama bertahun-tahun tanpa bisa pulang ke pangkuan ibu pertiwi.
3. Tanah Air yang Hilang (Karya Martin Aleida)
Masih mengangkat nasib para eksil, Martin Aleida sukses merangkum 19 kisah nyata warga Indonesia yang luntang-lantung di berbagai sudut Eropa. Bayangkan saja, mereka harus kabur melintasi batas negara dalam ketakutan—bahkan hidup tanpa paspor—demi menghindari buruan rezim yang berkuasa. Walaupun akhirnya mendapat suaka dan harus menggunakan paspor negara asing untuk mudik, nyatanya Indonesia tetap jadi rumah di hati mereka. Kisah pulang kampung orang-orang terasing ini benar-benar penuh makna dan menguras emosi.
4. Hari-hari Terakhir Bung Karno (Karya Peter Kasenda)
Penasaran dengan intrik politik tingkat tinggi di era 1965? Buku karya Peter Kasenda ini jawabannya. Kamu akan diajak membedah situasi politik super pelik sebelum dan sesudah meletusnya G30S, yang pada akhirnya ikut meruntuhkan tahta Presiden Sukarno. Lewat buku ini, ketegangan politik masa lalu yang mengubah drastis arah kekuasaan dan sejarah bangsa bakal terurai dengan sangat jelas.
5. Palu Arit di Ladang Tebu (Karya Hermawan Sulistyo)
Buku yang diadaptasi dari disertasi doktoral di Arizona State University ini mengambil sudut pandang yang beda banget. Alih-alih cuma membahas isu politik di tingkat nasional, fokus buku ini justru menyorot pembantaian massal 1965–1966 di akar rumput, tepatnya di wilayah Jombang dan Kediri, Jawa Timur. Ini bacaan penting buat kamu yang pengen paham seberapa parah dampak kekerasan politik itu menghantam masyarakat lokal di daerah.

