Ia mengingatkan masyarakat agar menjauhi ujaran kebencian, hoaks, maupun politik identitas yang dapat memperlebar perbedaan. Dalam dunia usaha, persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi harus dijalankan secara sehat dan tidak dengan cara saling menjatuhkan.
“Di dunia usaha, persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi jangan sampai dilakukan dengan saling menjatuhkan. Kita membutuhkan ekosistem ekonomi yang saling menguatkan,” katanya.
Andi Yuslim juga menyoroti pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai perbedaan. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi maupun organisasi.
Namun, perbedaan tersebut harus disikapi melalui dialog dan kemauan untuk mencari titik temu. Musyawarah menjadi sarana untuk mencegah perbedaan berkembang menjadi konflik yang dapat merusak persatuan.
“Perbedaan pendapat di DPR, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi lainnya merupakan hal yang wajar. Kuncinya adalah duduk bersama dan mencari titik temu,” ujarnya.
Ia menilai semangat tersebut juga sejalan dengan semangat Rapimnas Kadin, yakni “Satu data, satu suara untuk ekonomi.” Menurutnya, kesamaan visi dan kemauan untuk bekerja sama menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi nasional.
Hikmah lainnya yang disampaikan AYP adalah semangat gotong royong dalam membangun peradaban. Ia mencontohkan pembangunan Masjid Nabawi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat sebagai gambaran pentingnya kebersamaan dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Pembangunan Indonesia tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak secara sendiri-sendiri. Pemerintah, sektor swasta, UMKM, koperasi, dan masyarakat harus mengambil peran sesuai dengan kapasitas masing-masing.
“Pembangunan tidak dapat berjalan apabila dilakukan secara sendiri-sendiri. Pemerintah, sektor swasta, UMKM, dan masyarakat harus bergotong royong,” katanya.
Semangat kolaborasi tersebut diperlukan untuk menjalankan berbagai agenda strategis nasional, termasuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong hilirisasi, serta memperkuat koperasi sebagai bagian dari fondasi perekonomian nasional.
Sementara itu, hikmah terakhir yang ditekankan adalah pentingnya menerjemahkan kecintaan kepada tanah air melalui tindakan nyata, seperti kecintaan Rasulullah SAW terhadap Mekah sebagai gambaran kuatnya ikatan seseorang dengan tanah kelahirannya.

