Pengurus Pusat Syarikat Islam Andi Yuslim Patawari (AYP) mengatakan, Maulid Nabi hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai peringatan kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai momentum untuk meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam membangun persaudaraan, kepedulian, serta kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Mari bersama-sama memperingati kelahiran Rasulullah SAW, meneladani akhlak dan perjuangan beliau, mempererat ukhuwah, serta memanjatkan doa untuk para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah SAW tetap relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.
“Mari meneladani Rasulullah, memperkuat persaudaraan, dan mengisi kemerdekaan dengan kepedulian kepada umat,” tegasnya.
Hikmah Maulid Nabi, AYP Dorong Penguatan Ekonomi Indonesia
Pria yang menjabat Waketum Kadin ini juga menguraikan lima hikmah Maulid Nabi yang dinilai penting untuk menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman sekaligus memperkuat fondasi kehidupan sosial dan ekonomi nasional.
Menurut AYP, salah satu teladan penting dapat dipetik dari Piagam Madinah. Piagam tersebut memberikan pelajaran mengenai pentingnya membangun kehidupan bersama di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
Rasulullah SAW mempersatukan berbagai kelompok masyarakat Madinah, termasuk kaum Muhajirin, Anshar, Yahudi, dan sejumlah suku Arab, melalui kesepakatan bersama yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Semangat tersebut sangat relevan dengan kehidupan Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan agama, suku, maupun pilihan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah persatuan bangsa.
“Walaupun berbeda agama, suku, dan pilihan politik, kita tetap berada dalam satu tanah air. Di Kadin pun demikian, pengusaha besar, UMKM, dan koperasi duduk bersama dalam satu forum,” ujarnya.
Selain persatuan dalam keberagaman, AYP menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin. Nilai tersebut dinilai menjadi antitesis terhadap berbagai tindakan yang berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.

