JAKARTA – Perubahan teknologi digital telah memperluas spektrum ancaman pertahanan Indonesia. Ancaman tidak lagi hanya hadir dalam bentuk konvensional, tetapi berkembang ke ruang siber dan informasi yang dapat digunakan untuk mengganggu sistem, jaringan, hingga kepentingan strategis negara.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Mayjen TNI Ari Yulianto, S.IP., M.H.I., dalam Diskusi Strategis “Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber” yang digelar Program Studi Magister Peperangan Asimetris, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), di Kampus Unhan RI, Sentul, Bogor, Rabu (19/8/2026).
Ari mengatakan strategi pertahanan Indonesia perlu dirumuskan dengan mempertimbangkan karakter geografis sebagai negara kepulauan, kemampuan militer, sekaligus aspek ekonomi. Dalam kerangka tersebut, strategi pertahanan defensif-aktif ‘Perisai Trisula Nusantara’ menempatkan pertahanan berlapis, pengendalian chokepoints, dan blanket udara sebagai elemen penting.
“Strategi pertahanan Indonesia perlu mempertimbangkan karakter geografis negara kepulauan, kemampuan militer, serta aspek ekonomi. Karena itu, strategi pertahanan harus mampu membangun pertahanan berlapis sekaligus memastikan pengendalian terhadap ruang strategis Indonesia,” ujar Ari dalam paparannya.
Pertahanan berlapis dalam konsep tersebut dibangun melalui pembagian mandala pertahanan, yakni mandala luar yang berada di luar 200 mil atau di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), mandala utama yang mencakup wilayah ZEE hingga batas teritorial 12 mil, serta mandala dalam yang mencakup wilayah dari batas teritorial hingga daratan.
Sementara dalam pengendalian chokepoints, Indonesia membutuhkan kemampuan sea control untuk mendominasi wilayah laut terluar serta sea denial atau anti-access/area denial (A2/AD) untuk membatasi ruang gerak pihak lawan di wilayah perairan dalam.
Pada domain udara, strategi tersebut diperkuat melalui pembangunan sistem pertahanan udara berlapis, mulai dari jarak jauh, menengah, hingga dekat. Sistem tersebut membutuhkan integrasi radar Koopsudnas dan Kohanudnas serta pengaktifan Air Defence Identification Zone (ADIZ) nasional.

