Kemampuan yang dibutuhkan mencakup deteksi dini, intersepsi, hingga penghancuran terhadap ancaman udara.
Namun, menurut Ari, perkembangan teknologi digital membuat strategi pertahanan tidak dapat lagi hanya berorientasi pada domain darat, laut, dan udara. Ruang siber dan informasi telah menjadi bagian integral dari dinamika pertahanan kontemporer.
“Teknologi digital telah memperluas spektrum ancaman pertahanan, khususnya melalui serangan siber dan information operations,” katanya.
Dalam konteks militer, Ari memetakan sejumlah bentuk ancaman siber yang perlu diantisipasi, mulai dari traffic analysis, information restoration, illegal access, network attack, counterfeit terminal access, counterfeit user access, illegal network connection, illegal software running, weak password, high-risk vulnerabilities, network intrusion, signal detection, information interception, virus implantation, hingga malicious code implantation.
Ragam ancaman tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber tidak lagi dapat ditempatkan sebagai persoalan teknis yang berdiri sendiri. Ancaman dapat beririsan dengan operasi militer, informasi, komunikasi, serta infrastruktur strategis.
Karena itu, Ari menekankan pentingnya integrasi dan koordinasi antarkomponen pertahanan melalui konsep Joint National Operation Center (JNOC). Pusat operasi bersama tersebut dipandang relevan untuk menghadapi ancaman lintas domain yang semakin kompleks.
“Ancaman kontemporer dapat menggabungkan dimensi militer, siber, informasi, infrastruktur, dan aspek strategis lainnya. Karena itu, diperlukan integrasi dan koordinasi antarkomponen melalui konsep JNOC agar respons terhadap ancaman lintas domain dapat dilakukan secara terpadu,” ujar Ari.
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan RI Mayjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom (AI)., yang memberikan tanggapan dalam forum tersebut, menilai perubahan karakter ancaman menuntut pertahanan Indonesia untuk tidak lagi melihat teknologi digital secara sektoral.
“Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara kita memahami pertahanan. Ancaman dapat muncul secara simultan di berbagai domain dan saling memperkuat satu sama lain. Karena itu, pembangunan kekuatan pertahanan harus diikuti kemampuan integrasi, interoperabilitas, sumber daya manusia, serta tata kelola yang mampu merespons ancaman secara cepat dan terpadu,” ucapnya.

