Menurut Fitry, penguatan pertahanan di era digital juga perlu memperhatikan keseimbangan antara pembangunan kapabilitas teknologi dan kesiapan manusia serta institusi. Teknologi dapat memperbesar kemampuan pertahanan, tetapi tanpa koordinasi dan sumber daya manusia yang memadai, teknologi justru dapat menciptakan kerentanan baru.
“Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan memiliki teknologi, tetapi kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam strategi pertahanan. Di sinilah pentingnya kolaborasi antarkomponen pertahanan, lembaga pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya,” jelasnya.
Kaprodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI, Kolonel Arh Dr. Bambang Utomo, S.I.P., M.Sos , menilai paparan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi peperangan asimetris tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi dan perubahan karakter ancaman di ruang siber.
“Peperangan asimetris berkembang mengikuti perubahan lingkungan strategis. Ruang siber memungkinkan ancaman bergerak melampaui batas geografis dan menggabungkan berbagai instrumen secara bersamaan. Karena itu, penguatan strategi pertahanan harus mampu membaca keterhubungan antara ancaman militer, siber, informasi, dan infrastruktur strategis,” urainya.
Bambang mengatakan perspektif tersebut menjadi salah satu alasan Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI mendorong diskusi lintas disiplin dan lintas sektor mengenai transformasi peperangan di era AI.
“Bagi Prodi Peperangan Asimetris, tantangannya bukan hanya bagaimana memahami teknologi baru, tetapi bagaimana mengantisipasi perubahan karakter peperangan yang ditimbulkannya. AI dan teknologi digital harus dibaca sebagai bagian dari perubahan strategis yang membutuhkan respons pertahanan yang adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan.”
Diskusi strategis tersebut merupakan bagian dari upaya Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI mempertemukan perspektif pemerintah, militer, akademisi, legislatif, praktisi teknologi, dan komunitas dalam membaca perkembangan ancaman kontemporer. Kegiatan ini secara khusus menempatkan perubahan karakter peperangan akibat AI, pemanfaatan AI dalam pertahanan siber, serta kebutuhan penguatan strategi dan kebijakan pertahanan sebagai fokus utama sesi diskusi.

