JAKARTA – Dialog Nasional Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) menegaskan Indonesia masih memiliki peluang menjaga ketahanan ekonomi di tengah turbulensi global melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa serta percepatan transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Forum bertema “Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting atau Rentan?” itu menghadirkan akademisi dan ekonom untuk membahas dampak perubahan geopolitik dunia, sekaligus memetakan peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia melalui hilirisasi, ekonomi digital, investasi strategis, dan penguatan sumber daya manusia.
Ketua Umum Formas Yohanes Handoyo Budhisedjati mengatakan dialog tersebut sengaja menghadirkan perspektif yang lebih objektif di tengah berkembangnya pandangan pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, tantangan ekonomi harus menjadi momentum membangun kolaborasi, bukan memperbesar perbedaan.
“Kita ingin, ayo kita ada masalah, ayo kita kolaborasi, ayo kita kerja sama bagaimana meningkatkan ini. Kita ingin agar pemerintah berjalan dengan baik. Kita ingin agar pemerintah benar-benar konsentrasi untuk memperbaiki perekonomian kita,” kata Yohanes kepada wartawan usai acara, Jumat (17/7/2026).
Dia mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan akibat dinamika geopolitik, perang, hingga arus keluar modal. Namun, dia menilai hasil dialog menunjukkan masih terdapat ruang bagi Indonesia untuk memperkuat pemulihan ekonomi apabila seluruh pihak bersatu mengawal berbagai kebijakan strategis.
“Tadi yang dijelaskan para ekonom, dengan segala kekurangan kita, masih ada celah dan secercah harapan untuk benar-benar bisa recovery. Turbulensi ekonomi harus kita waspadai, tetapi jangan menjadi sesuatu yang membuat kita terpecah,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Tarumanagara Prof. Dr. Ariawan Gunadi, memaparkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia hingga kini masih berada dalam kondisi yang cukup baik meski dunia dihadapkan pada ketidakpastian akibat perang dagang Amerika Serikat-China, kebijakan tarif timbal balik, dan perubahan rantai pasok global.

