Di sektor kesehatan, kesenjangan juga terlihat tajam. Angka kematian ibu di Papua pada 2020 tercatat sekitar 500 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi mencapai 38 per 1.000 kelahiran.
Pada saat bersamaan, proyek-proyek pembangunan skala besar terus diperluas melalui program strategis nasional.
Kontras itulah yang menjadi fondasi utama dokumenter Pesta Babi. Film tersebut mempertanyakan mengapa eksploitasi sumber daya dan pembangunan industri besar tetap berjalan agresif ketika berbagai indikator dasar kesejahteraan masyarakat Papua masih tertinggal.
Peneliti Pusaka Bentala Rakyat Sutami Amin menyebut situasi itu sebagai paradoks pembangunan.
“Di satu sisi ada proyek dekolonial yang besar, tapi di sisi lain menyembunyikan proyek kolonial.” kata Sutami mengutip dari beberapa sumber.
Menurut dia, pola tersebut bukan fenomena baru. Keterlibatan aparat keamanan dan perusahaan besar dalam proyek sumber daya di Papua telah berlangsung sejak era kolonial hingga sekarang.
Perebutan Narasi tentang Papua
Kontroversi Pesta Babi pada akhirnya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar polemik film dokumenter. Yang dipertarungkan bukan hanya isi film, tetapi siapa yang berhak mendefinisikan Papua.
Di satu sisi, negara melihat pembangunan sebagai instrumen integrasi, pemerataan, dan ketahanan pangan maupun energi. Di sisi lain, sebagian masyarakat adat dan kelompok sipil melihat proyek-proyek tersebut sebagai bentuk penguasaan ruang hidup yang berlangsung tanpa partisipasi setara.
Film itu Berdiri di Tengah Benturan Dua Narasi Tersebut.
Karena itu, respons terhadap Pesta Babi tidak berhenti pada kritik artistik atau perdebatan akademik. Pemutaran dibubarkan, ruang diskusi dibatasi, dan aparat keamanan turun langsung ke lokasi acara.
Situasi itu justru memperkuat kesan bahwa isu Papua masih diperlakukan sebagai wilayah sensitif yang sulit dibicarakan secara terbuka.
Padahal, sebagian fakta yang diangkat film berasal dari data resmi, dokumentasi lapangan, serta kondisi sosial yang dapat diverifikasi.

