Seno menilai langkah awal bukan membangun laboratorium kuantum, melainkan melakukan inventarisasi kriptografi dan menyusun rencana migrasi Post-Quantum Cryptography (PQC) yang tuntas sebelum 2030.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk memastikan kampus mengetahui sistem dan data apa saja yang menggunakan teknologi kriptografi serta bagian mana yang perlu dimigrasikan agar lebih tahan terhadap ancaman komputasi kuantum.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Telkom menyatakan menyiapkan arsitektur jaringan quantum-safe yang menggabungkan PQC, Quantum Key Distribution (QKD), dan Zero-Trust Architecture pada lapisan jaringan akses, jaringan inti, hingga pusat data.
Di sisi infrastruktur, Telkom melalui InfraNexia menyediakan 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Infrastruktur tersebut dilengkapi ekosistem data center dan cloud NeutraDC serta SOC nasional.
Selain infrastruktur, penguatan kesiapan digital kampus juga diarahkan pada inovasi dan pengembangan talenta. Kolaborasi dapat dilakukan melalui joint lab dan testbed, termasuk membuka jalur komersialisasi hasil riset menuju pasar.
Sejumlah implementasi yang disebut dalam forum antara lain penyediaan produk AI bagi sejumlah universitas, pra-peluncuran platform yang memadukan AI, komputasi awan, dan keamanan siber, serta program Digistar Class untuk mempercepat penyiapan talenta digital.
Forum tersebut mendorong perguruan tinggi mengambil tiga langkah bersama, yakni menyelaraskan tata kelola dengan menunjuk penanggung jawab di tingkat institusi, membangun kolaborasi inovasi melalui joint lab, serta memperkuat keamanan aset digital melalui inventarisasi kriptografi.
Dengan langkah tersebut, kesiapan digital perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk mengejar adopsi teknologi baru. Kampus juga perlu memastikan tata kelola, konektivitas, keamanan data, dan kapasitas sumber daya manusia berkembang secara bersamaan agar transformasi digital tidak menciptakan kerentanan baru.

