JAKARTA – Sutradara Yosep Anggi Noen mengadaptasi novel karya Leila S. Chudori ke bentuk film lewat pendekatan populer. Langkah ini bertujuan menjembatani peristiwa sejarah dengan penonton masa kini sekaligus menghidupkan kedekatan suasana serta emosi. Unsur budaya populer seperti musik berfungsi mendekatkan penonton pada narasi sejarah.
“Kami membuat film ini tuh pendekatannya populer. Jadi pendekatannya bukan pendekatan film sejarah sangat kaku, tapi ini film populer,” ujar Anggi Noen.
Anggi Noen menilai novel asli menjadi kekuatan utama cerita. Karakter dalam cerita tetap relevan lintas generasi, salah satunya Asmara Jati. Karakter tersebut menampilkan ketegaran saat menghadapi kehilangan.
“Ekspresi nanti muncul di layar ketika seorang Asmara muncul itu bukan Asmara menunjukkan kesedihan dengan air mata, tapi menunjukkan kesedihan dengan kesetiaan menunggu dan mencari, karena menunggu itu juga bagian dari perlawanan,” kata Anggi Noen.
Dinamika Karakter dan Perjuangan Aktivis 1998
Aktris Yunita Siregar pemeran Asmara Jati menggambarkan karakternya sebagai sosok rasional bertangan dingin. Karakter tersebut memiliki kecerdasan emosional tinggi saat merespons hilangnya sang kakak, Biru Laut.
“Dia responsif, tapi ketika dia menerima informasi, dia cerna dulu. Enggak langsung beraksi, dia cerna dulu, dia atur strategi, baru dia eksekusi,” tutur Yunita.
Lewat peran ini, Yunita memetik pelajaran mendalam mengenai makna kehilangan. Berduka tidak melandasi seseorang untuk melupakan.
“Yang dipelajari adalah berduka itu bukan berarti melupakan, tapi mencintainya dengan cara lain. Ya sudah, kita mencintai Mas Laut dengan ketidakhadirannya dia, tapi tetap selalu dikenang,” ujar aktris pemeran film drama Home Sweet Loan tersebut.
Aktor Dewa Dayana pemeran Sunu Dyantoro menjadikan novel karya Leila S. Chudori sebagai acuan utama. Novel tersebut membantu pendalaman dinamika perjuangan aktivis era 1998. Pergerakan masa itu berfokus pada kegiatan komunal untuk bertukar gagasan dan melangkah bersama.

