Jakarta – Hamparan putih salju yang turun tanpa henti menyelimuti sebagian besar wilayah pesisir Laut Jepang hingga pusat Ibu Kota Tokyo pada Minggu (8/2) pagi, mengubah pemandangan kota menjadi labirin es yang beku.
Fenomena alam ini tidak hanya mempercantik sudut kota, tetapi juga memicu kekacauan logistik setelah salju setebal 30 sentimeter menimbun Prefektur Fukui dan Tottori hanya dalam waktu enam jam.
Akibat pola cuaca musim dingin yang sangat kuat ini, mobilitas warga terganggu dan transportasi massal utama harus beroperasi dengan ekstra hati-hati guna menghindari kecelakaan fatal.
Shinkansen Tak Lagi Secepat Kilat
Pola cuaca ekstrem ini memaksa operator kereta api mengambil langkah darurat. Jalur kereta cepat Shinkansen Tokaido dan Sanyo, yang biasanya terkenal dengan kecepatan tinggi, kini harus menurunkan kecepatannya secara signifikan sejak layanan dimulai pada Minggu pagi.
Pengurangan kecepatan ini terfokus pada jalur antara Shinagawa di Tokyo hingga Atami di Prefektur Shizuoka, serta rute Hiroshima menuju Asa di Prefektur Yamaguchi.
“Pola cuaca musim dingin yang kuat diperkirakan akan berlanjut di seluruh negeri, menciptakan kondisi atmosfer yang sangat tidak stabil,” ungkap perwakilan Badan Meteorologi Jepang dalam keterangan resminya.
Waspada Gelombang Tinggi dan Badai
Selain tumpukan salju yang mencapai 3 sentimeter di pusat Tokyo, otoritas setempat juga memperingatkan ancaman badai salju dan gelombang tinggi di wilayah pesisir.
Kota-kota yang berdekatan dengan Kyoto kini berada dalam status siaga tinggi karena potensi gangguan lalu lintas yang sangat besar. Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan memantau pembaruan jadwal transportasi publik secara berkala.
“Warga harus tetap waspada terhadap gangguan lalu lintas akibat salju lebat, badai salju, serta potensi gelombang tinggi di wilayah perairan,” pungkas pihak Badan Meteorologi Jepang melalui kanal komunikasi daruratnya.
