Jakarta – Nama Rick Famuyiwa mungkin kini identik dengan galaksi nun jauh di sana berkat kontribusinya dalam semesta Star Wars. Sebagai sutradara, penulis, sekaligus produser eksekutif untuk The Mandalorian dan Ahsoka, Famuyiwa telah membuktikan kemampuannya mengelola waralaba raksasa. Namun, jauh sebelum ia berurusan dengan Grogu, nama Baby Yoda yang sempat tidak ia sukai, Famuyiwa adalah suara autentik bagi representasi pria kulit hitam di layar lebar.
Perjalanannya dimulai lewat debut yang memukau pada tahun 1999 dengan film The Wood. Film yang berlatar di Inglewood, California ini mengeksplorasi kehidupan pria kulit hitam kelas menengah, sebuah perspektif yang sering kali diabaikan oleh industri Hollywood. Ia kemudian melanjutkan estafet karyanya lewat Brown Sugar (2002) dan komedi Our Family Wedding (2010).
Karya Masterpiece: Transformasi Kutu Buku di ‘Dope’
Puncak prestasi Famuyiwa hadir pada tahun 2015 melalui film Dope. Berbeda dengan stereotip film kriminal pada umumnya, Famuyiwa justru menyoroti kelompok “Black Geeks” atau kutu buku kulit hitam yang terjebak di lingkungan dengan tingkat kriminalitas tinggi.
Tokoh utama kita, Malcolm (Shameik Moore), adalah remaja yang terobsesi dengan budaya hip-hop era 90-an dan bermimpi masuk Universitas Harvard. Namun, hidupnya berubah drastis setelah pengedar narkoba bernama Dom—diperankan oleh rapper A$AP Rocky dalam debut aktingnya—menyembunyikan barang haram di tas Malcolm.
Alih-alih menyerah pada keadaan, Malcolm dan kawan-kawannya menggunakan kecerdasan milenial mereka untuk menjual narkoba tersebut melalui pasar gelap online dengan pembayaran Bitcoin.
Kritikus film memuji keberanian Famuyiwa dalam mengaburkan batasan antara siswa berprestasi dan pelaku kriminal. “Punchline-nya adalah Malcolm merupakan kedua siswa tersebut; si peraih nilai A sekaligus pengedar di jalanan,” tulis pengamat film mengenai dualitas karakter Malcolm yang cerdas.
Semesta Terpadu dan Dampak Budaya
Menariknya, Famuyiwa menciptakan semesta sinematiknya sendiri. Karakter Stacey, seorang penjaga keamanan sekolah yang muncul di The Wood, kembali hadir dalam film Dope. Hal ini menunjukkan betapa detailnya Famuyiwa dalam membangun narasi yang berakar pada tanah kelahirannya, Inglewood.
Meski sempat mendapat kritik karena dianggap menggunakan klise film kriminal tahun 90-an, banyak yang membela bahwa hal tersebut adalah bentuk satire yang sengaja dilakukan. Famuyiwa ingin menunjukkan bahwa karakter kutu buku sekalipun tetap “terjebak” secara sinematik dalam lingkungan mereka.
Kini, setelah sukses besar di dunia televisi, karya-karya lama Famuyiwa kembali menjadi bahan perbincangan sebagai fondasi kuat bagi para bintang besar seperti Zoë Kravitz, Lakeith Stanfield, hingga Tyga.

