JAKARTA – Aroma rumput basah Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menyimpan memori kelam masa lalu sekaligus harapan baru. Di bawah lampu sorot stadion megah ini, laga persahabatan FIFA kontra Oman menjadi panggung pembuktian harga diri.
Skuad Garuda memikul misi besar memutus kutukan sejarah panjang tanpa kemenangan atas tim tamu, sekaligus mengirim sinyal bahaya ke seantero Asia.
Pertandingan sengit terjadwal berlangsung pada Jumat (5/6/2026) malam. Juru taktik asal Inggris, John Herdman, langsung memasang target tinggi demi mengembalikan kejayaan masa lalu.
“Kami belum pernah mengalahkan Oman dalam 38 tahun terakhir, dan itulah tantangan kami,” ujar Herdman pada jumpa pers pra-pertandingan di SUGBK, Kamis (4/6).
Menantang Raksasa Peringkat 79 Dunia
Oman jelas bukan lawan sembarangan bagi Indonesia dalam peta persaingan sepak bola internasional. Berdasarkan data resmi, jurang kualitas kedua tim terlihat cukup lebar pada papan peringkat dunia.
Berikut rincian fakta kekuatan serta sejarah pertemuan kedua tim nasional:
- Peringkat FIFA Oman: Berada di posisi ke-79 dunia.
- Peringkat FIFA Indonesia: Bertengger di peringkat 122 dunia.
- Kemenangan Terakhir Indonesia: Terjadi pada tahun 1987 (skor 2-0) dan tahun 1988 (skor 3-0) pada ajang King’s Cup.
- Pertemuan Terakhir (2021): Indonesia asuhan Shin Tae-yong takluk dengan skor 1-3 dalam laga persahabatan.
Herdman menilai laga kali ini memiliki atmosfer berbeda, bukan sekadar pertandingan persahabatan biasa. Hasil akhir nanti bakal menjadi parameter kesiapan Indonesia bersaing di turnamen resmi Federasi Sepak Bola Asia (AFC).
“Ini bukan sekadar laga persahabatan. Ini kesempatan bagi kami untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah pesaing serius di AFC,” tutur Herdman.
Evaluasi Taktik Lini Serang Garuda
Mantan pelatih timnas Kanada tersebut memanfaatkan duel versus Oman sebagai sarana pembenahan tim. Evaluasi mendalam merujuk pada performa minor anak asuhnya pada ajang FIFA Series akhir Maret silam. Penguasaan bola dominan terbukti mubazir tanpa penyelesaian akhir mematikan.
Herdman secara terbuka membeberkan rapor merah lini depan skuad Garuda:
- Minim Tembakan: Pemain depan kurang memproduksi tembakan tepat sasaran ke gawang lawan.
- Kurang Agresif: Pergerakan pemain masuk ke dalam kotak penalti musuh masih sangat minim.
- Kualitas Area Final: Efektivitas serangan pada area-area krusial pertahanan lawan belum memadai.
“Salah satu kekurangannya sangat jelas. Kami tidak menghasilkan cukup banyak tembakan tepat sasaran meski memiliki kontrol permainan besar,” kata Herdman.

