JAKARTA – Laga panas Derby Madrid di Metropolitano berakhir ricuh setelah pelatih Real Madrid Jose Mourinho meluapkan emosi jiwa atas kepemimpinan wasit dan VAR usai Real Madrid takluk 1-2 dari Atletico Madrid dalam lanjutan LaLiga.
Hasil pertandingan Real Madrid vs Atletico Madrid ini diwarnai aksi kartu merah Dean Huijsen serta gol penalti Alejandro Grimaldo dan Jonathan David yang cuma bisa dibalas gol Antonio Rudiger.
Kekalahan pahit dalam derby panas LaLiga ini bikin klasemen Real Madrid tertahan di peringkat empat, memicu gelombang kritik Jose Mourinho terhadap keputusan wasit kontroversial dan kinerja VAR LaLiga.
Sorotan utama Jose Mourinho pasca laga tertuju pada dua pelanggaran horor babak pertama, yakni aksi Cristian Romero menginjak lutut Jude Bellingham serta tekel keras Lee Kang-in kepada Federico Valverde.
Juru taktik Real Madrid itu bahkan sengaja membawa cetakan foto dua insiden berdarah tersebut saat hadir di sesi konferensi pers Real Madrid buat dipamerkan ke hadapan jurnalis.
Menurut sosok berjuluk The Special One, dua momen berbahaya tersebut murni kartu merah langsung yang luput dari pengamatan pengadil lapangan.
“Cerita utama laga ini ada di foto. Dua insiden tadi jelas kartu merah,” tegas juru taktik kawakan tersebut. Skenario bertanding dengan 10 pemain jelas sangat memberatkan skuad, apalagi jika lawan seharusnya bermain dengan sembilan orang selama 50 menit sisa pertandingan.
Kritik pedas dilayangkan langsung kepada Komite Wasit CTA lantaran menunjuk Miguel Angel Ortiz Arias sebagai wasit Derby Madrid.
Pengalaman wasit usia 41 tahun tanpa jam terbang internasional dianggap belum cukup matang memimpin tensi tinggi laga klasemen LaLiga. Tekanan besar di lapangan hijau dinilai bikin sang wasit gagap mengambil keputusan krusial.
Perangkat video assistant referee atau VAR juga dituding lepas tangan, padahal cedera Federico Valverde pada bagian pergelangan kaki tergolong parah.
Deretan keputusan penalti kontroversial pada pekan-pekan sebelumnya dianggap selalu menguntungkan rival sengit macam Atletico Madrid dan Barcelona. Harapan besar tertuju pada terciptanya persaingan sehat di atas lapangan tanpa campur tangan kesalahan wasit CTA yang merugikan persaingan gelar juara.

