JAKARTA – Kedatangan mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-Yong, sebagai pelatih baru Persija Jakarta menjadi babak baru bagi klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut. Penunjukan pelatih asal Korea Selatan itu pada 8 Juni 2026 dinilai sebagai langkah besar manajemen Persija dalam membangun proyek jangka panjang setelah satu dekade penuh dinamika pergantian pelatih.
Sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia, Persija memiliki ekspektasi tinggi dari manajemen maupun suporternya, The Jakmania. Tekanan untuk mempertahankan prestasi membuat klub ibu kota ini kerap melakukan evaluasi besar, termasuk pergantian pelatih dalam waktu yang relatif singkat.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Persija tercatat beberapa kali berganti pelatih demi mencari formula terbaik untuk mengembalikan kejayaan tim.
Awal Dinamika Era Modern Persija
Pada musim 2016, Persija menunjuk pelatih asal Brasil, Paulo Camargo. Namun, kebersamaan tersebut tidak berlangsung lama setelah Camargo mengakhiri masa kepelatihannya pada Agustus 2016. Kehadiran Camargo menjadi awal dari dinamika panjang pergantian pelatih di tubuh Persija.
Setahun berselang, tepatnya musim 2017, Persija kembali menunjuk pelatih asal Brasil, Stefano Cugurra atau yang akrab disapa Teco. Di bawah kepemimpinannya, Persija menunjukkan perkembangan signifikan.
Puncaknya terjadi pada musim 2018 saat Persija berhasil menjuarai Liga 1 Indonesia setelah penantian panjang selama bertahun-tahun. Teco dianggap sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Persija. Namun, setelah membawa gelar juara, ia memilih meninggalkan klub pada akhir musim 2018 untuk mencari tantangan baru.
Krisis dan Pergantian Tiga Pelatih dalam Setahun
Pasca kepergian Teco, Persija memasuki fase ketidakstabilan. Pada musim 2019, manajemen menunjuk Ivan Kolev sebagai pelatih kepala. Namun, hasil yang kurang memuaskan membuat posisi tersebut dievaluasi.
Di tengah kompetisi, Persija mengganti Kolev dengan pelatih asal Spanyol, Julio Banuelos. Sayangnya, performa tim belum juga membaik. Situasi tersebut membuat manajemen kembali melakukan pergantian dengan menunjuk Edison Tavares pada tahun yang sama.

