Tiga kali pergantian pelatih dalam satu musim menjadi gambaran tingginya tekanan di internal klub. Ketidakstabilan tersebut membuat Persija sempat terjebak di papan bawah klasemen dan harus berjuang menjauhi zona degradasi.
Pandemi dan Munculnya Sudirman
Saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, kompetisi Liga 1 Indonesia harus dihentikan. Di tengah situasi tersebut, Persija menunjuk Sergio Farias sebagai pelatih anyar. Namun, pandemi membuat program kepelatihannya tidak berjalan maksimal.
Setelah itu, Persija mempercayakan kursi pelatih kepada Sudirman. Meski berstatus pelatih lokal, Sudirman mampu membawa Persija tampil kompetitif hingga mencapai final Piala Menpora 2021.
Penampilan tim pada masa itu mendapat respons positif dari suporter maupun pengamat sepak bola nasional.
Harapan Besar kepada Pelatih Asing
Pertengahan 2021, Persija kembali mendatangkan Angelo Alessio, mantan asisten pelatih Tim Nasional Italia. Kehadirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas permainan tim melalui pengalaman internasional yang dimilikinya.
Namun, hasil di lapangan tidak berjalan sesuai ekspektasi. Persija gagal menunjukkan konsistensi performa, hingga Alessio akhirnya meninggalkan klub pada awal 2022.
Pada tahun yang sama, Persija menunjuk pelatih asal Jerman, Thomas Doll. Berbeda dengan pelatih sebelumnya, Doll diberikan waktu lebih panjang untuk membangun chemistry tim.
Thomas Doll dikenal sebagai sosok yang berani memberi kesempatan kepada pemain muda. Selama masa kepelatihannya, Persija mampu bersaing di papan atas Liga 1 dan menunjukkan peningkatan performa yang cukup signifikan.
Meski demikian, kegagalan membawa trofi juara membuat perjalanan Doll bersama Persija berakhir setelah dua musim.
Carlos Pena hingga Mauricio Souza
Setelah era Thomas Doll, Persija menunjuk pelatih asal Spanyol, Carlos Pena. Kehadirannya kembali membawa harapan besar untuk merebut gelar juara. Namun, hasil yang diperoleh belum memenuhi target manajemen.
Pergantian pelatih kembali terjadi ketika Persija mendatangkan Mauricio Souza asal Brasil. Manajemen berharap Souza mampu mengembalikan Persija sebagai tim kompetitif dan juara.
Akan tetapi, setelah kompetisi berakhir, manajemen memutuskan tidak memperpanjang kontraknya lantaran target yang diharapkan belum tercapai.


