Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan asap yang terpantau di atmosfer dan kondisi kualitas udara di permukaan perlu dicermati secara terpisah. BMKG tidak menyatakan bahwa asap yang sempat memasuki Jabodetabek menjadi penyebab angka ISPU di sejumlah lokasi tersebut.
Ratusan titik panas masih terdeteksi
Di luar Jawa bagian barat, BMKG masih memantau sebaran asap di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua. Asap di wilayah-wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.
Pada 16 Oktober 2026, pukul 00.00 hingga 23.59 WIB, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sumatra Selatan mencatat jumlah terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur dengan 89 titik dan Papua Selatan sebanyak 63 titik.
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat 26 titik panas. Khusus Kalimantan Tengah, jumlah tersebut turun dari 485 titik pada pemantauan sehari sebelumnya.
Meski demikian, kondisi relatif kering masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan. BMKG memperkirakan kondisi tersebut berlanjut pada 17 hingga 24 Oktober 2026 seiring rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas, udara kering, dan potensi penurunan kualitas udara akibat asap karhutla.
Masyarakat disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan tabir surya saat beraktivitas di bawah sinar matahari, serta membatasi kegiatan luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. Warga di wilayah terdampak asap juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai, terutama untuk melindungi anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan.
BMKG meminta masyarakat terus memantau informasi cuaca dan kualitas udara melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial @infobmkg.

