Prof. Syamsiah juga menyoroti meningkatnya angka laporan kekerasan dari tahun ke tahun. Menurutnya, peningkatan angka tersebut tidak selalu berarti jumlah kasus mengalami peningkatan secara signifikan.
“Meningkatnya angka kekerasan setiap tahun bukan berarti tidak selamanya berarti peningkatan kasus. Boleh jadi data itu meningkat karena adanya keberanian para korban untuk melaporkan kasusnya kepada yang berwenang.”
ungakapnya.
Lebih lanjut, meningkatnya keberanian korban untuk melapor justru dapat membantu mengungkap persoalan yang sebelumnya tidak terlihat. Dengan semakin banyak data yang diperoleh, intervensi kebijakan untuk menangani akar persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak juga akan lebih mudah dilakukan.
Sebagai langkah awal, PSG-PHA Unas akan menjalankan program RW binaan di sekitar kampus. Wilayah tersebut akan menjadi lokasi penelitian, sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap kekerasan.
Program tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, sehingga kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat dapat dilakukan secara bersamaan.
“Dengan adanya RW-RW binaan ini, semua kegiatan dharma tadi itu bisa dilakukan secara bersamaan di suatu lokasi.”
tambahnya.
Ia mengatakan pemilihan wilayah binaan akan dimulai dari lingkungan sekitar kampus dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan dan kerentanan masyarakat terhadap persoalan perempuan dan anak.
Kekerasan Berbasis Gender Online Makin Marak
Sementara itu, Ketua Pelaksana Sarasehan dan Launching PSG-PHA Unas Nieke Monika Kulsum, Ph.D., mengatakan pembentukan pusat studi tersebut juga dilatarbelakangi oleh semakin maraknya kekerasan berbasis gender online atau KBGO.
Menurut Nieke, kekerasan di ruang digital memiliki banyak pelaku maupun korban. Namun, kasus-kasus tersebut belum seluruhnya terangkat di media massa.
“Kekerasan berbasis gender online sudah mulai banyak, sedang marak. Pelakunya ada dan korbannya juga banyak, cuma jarang ter-update di media massa.”
kata Nieke.
Nieke mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan PSG-PHA Unas akan mendorong penelitian untuk mengetahui persoalan yang dihadapi korban sekaligus mencari solusi, termasuk melalui pendidikan dan literasi.

