Ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan, khususnya ibu, dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Menurutnya, penggunaan gadget dan media sosial tanpa pendampingan dapat menciptakan kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak.
“Peran perempuan sebagai seorang pendidik anak-anaknya penting dalam memberitahu kepada anak mana yang bisa dipelajari atau bisa diambil dari kemajuan media sosial, kemajuan internet dan mana yang sebaiknya dihindari.”
pungkasnya.
Dalam jangka pendek, Nieke mengatakan PSG-PHA Unas akan memperkuat konsolidasi internal sebelum memperluas program kepada masyarakat. Salah satu rencana yang disiapkan adalah menghadirkan ruang perlindungan bagi perempuan dan anak di lingkungan sekitar kampus.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan ruang aman bagi perempuan dan anak yang selama ini masih takut atau belum berani menceritakan kekerasan yang dialaminya.
Ke depan, keberadaan PSG-PHA Unas diharapkan tidak hanya menghasilkan penelitian dan publikasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak.

