JAKARTA – Kebutuhan akan akses pendidikan dan layanan kesehatan yang berkelanjutan menjadi tantangan yang terus dihadapi masyarakat. Memasuki usia ke-67 tahun, Yayasan Tarumanagara menegaskan komitmennya memperkuat kontribusi sosial melalui berbagai program kemasyarakatan sekaligus menyiapkan generasi muda yang mampu menjawab kebutuhan masa depan.
Komitmen tersebut menjadi pesan utama dalam puncak peringatan HUT ke-67 Yayasan Tarumanagara bertema Legacy and Sustainable Impact for Society yang digelar di Universitas Tarumanagara, Kamis (18/06/2026). Sebelumnya, yayasan telah menggelar berbagai kegiatan sosial, mulai dari donor darah hingga bantuan ke panti asuhan, anak yatim, dan panti jompo.
“Kenapa kami memilih tema ‘Legacy and Sustainable Impact for Society’? Karena kami Yayasan Tarumanagara di ulang tahun yang ke-67 ingin memberikan impact yang lebih nyata kepada masyarakat. Makanya kami melakukan kegiatan sosial, baik ke panti asuhan, panti jompo, donor darah, dan banyak kegiatan sosial lainnya yang kami berikan kepada masyarakat luas,” ujar Ketua Yayasan Tarumanagara Prof. Dr. Ariawan Gunadi, S.H., M.H. saat dihubungi oleh tim Rasional.co, Jumat (19/6/26).
Dorong Kontribusi Sosial Jangka Panjang
Pria yang sering disapa Prof Ariawan ini menilai dampak sosial yang diberikan lembaga pendidikan harus dapat dirasakan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada program-program yang bersifat sesaat. Karena itu, Yayasan Tarumanagara terus mendorong keberlanjutan kontribusi di bidang pendidikan dan kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial institusi.
“Dan kedua, dampak berkelanjutannya seperti apa? Kami harapkan bisa ada sustain. Artinya, kegiatan yang dilakukan oleh yayasan di bidang pendidikan dan kesehatan itu bisa nyata dan terus dilakukan hingga seterusnya sampai 67 tahun, 67 tahun yang berikutnya. Sehingga siapapun pemimpinnya, kaderisasi pun juga tetap berjalan,” katanya.
Semangat menjaga keberlanjutan tersebut juga ditandai dengan peluncuran buku tentang Kwee Hwat Djien, Ketua Pengurus pertama Yayasan Tarumanagara periode 1959-1965. Langkah ini dinilai penting untuk merawat nilai sejarah sekaligus menjaga kesinambungan visi yang telah dibangun sejak awal berdirinya yayasan.

