-
Industri Sudah Berubah Haluan: Maia menilai skema bisnis di dunia musik saat ini sudah tidak semenarik dulu, terutama terkait transparansi dan besaran pembagian untung dari platform streaming.
-
Karya Menjadi Sekadar Bank Data: Sebenarnya, ia masih aktif menciptakan musik. Namun, karya-karya tersebut untuk sementara waktu hanya disimpan sebagai arsip pribadi atau “bank data” hingga ada momen yang dirasa pas.
-
Mengenang Era Keemasan Fisik: Ia merasa standar kesuksesan finansial musisi lebih terjamin di masa lalu, tepatnya ketika angka penjualan kaset, CD, dan Ring Back Tone (RBT) masih merajai pasar.
Lebih Pilih Nostalgia dan Seru-seruan Bareng Crowd Festival
Ketimbang memaksakan diri bersaing di kerasnya industri digital, Maia kini lebih memilih merayakan musiknya dengan cara yang membahagiakan. Tampil bersama Mey Chan dalam format Duo Maia, ia merasa menemukan kembali nyawa dari bermusik saat berhadapan langsung dengan lautan penonton festival yang antusias.
“Jadi kalau yang kayak begini-begini, festival yang rame, itu suasana posisinya seru. Kita bisa ketawa-ketawa, bergembira bersama, nyanyi bareng rame-rame, dan enggak perlu tegang. Nah, yang seperti ini yang kita mau,” tutur Maia Estianty.
Menurutnya, ada pergeseran motivasi yang wajar di kalangan musisi senior. Menikmati momen sing-along tanpa beban tekanan target penjualan digital rupanya menjadi healing tersendiri bagi seorang Maia Estianty:
-
Interaksi langsung dengan kerumunan (crowd) lebih bernilai secara emosional.
-
Panggung festival menawarkan atmosfer santai tanpa rasa tegang.
-
Fokus beralih dari sekadar mengejar angka streams menjadi murni ajang nostalgia dan bersenang-senang.

