Jakarta – Ancaman terhadap ketahanan nasional Indonesia kini semakin bergeser dari bentuk militer konvensional ke ancaman non-militer yang bekerja secara senyap, seperti disinformasi, radikalisme, penyalahgunaan narkoba, degradasi moral, dan konflik sosial. Pergeseran ini menuntut pendekatan baru dalam membangun ketahanan bangsa, dengan masyarakat sebagai aktor utama.
Hal itu menjadi dasar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Unhan RI di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jumat (13/2/2026). Kegiatan ini mengusung penguatan nilai bela negara berbasis kearifan lokal sebagai fondasi ketahanan nasional di tengah komunitas.

Dalam sambutan Dekan Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI pada pembukaan PKM yang disampaikan oleh Brigjen TNI Tri Setyo Subagyo S.I.P., M.M, sebagai Wakil Dekan II Bidang Keuangan dan Umum, ditegaskan bahwa karakter ancaman telah berubah secara fundamental.
“Ancaman terhadap bangsa tidak lagi didominasi militer konvensional. Tantangan yang kita hadapi justru berasal dari disinformasi, radikalisme, penyalahgunaan narkoba, degradasi moral, konflik sosial, dan melemahnya persatuan,” ujar Tri Setyo Subagyo.

Ia menekankan bahwa ketahanan nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa, dengan rakyat sebagai subjek utama dalam sistem pertahanan semesta. Dalam kerangka itu, bela negara menjadi instrumen strategis untuk membangun kesadaran dan ketangguhan masyarakat berbasis nilai kebangsaan dan kearifan lokal.
Dekan FSP Unhan RI, Mayjen TNI Dr. Oktaheroe Ramsi, menyatakan bahwa bela negara harus hidup dalam praktik sosial, bukan berhenti pada slogan.
“Ketahanan nasional hari ini ditentukan oleh seberapa kuat masyarakat memahami dan mempraktikkan nilai bela negara dalam kehidupan sehari-hari,” kata Oktaheroe Ramsi.
Jonggol dipilih karena posisinya sebagai wilayah penyangga ibu kota dengan dinamika sosial dan arus informasi yang tinggi, sehingga rentan terhadap penetrasi ancaman non-militer, terutama bagi generasi muda.

Kaprodi Peperangan Asimetris FSP Unhan RI, Kolonel Arh Dr. Bambang Utomo, menilai bahwa peperangan modern berlangsung di ruang sosial.
“Peperangan asimetris bekerja melalui narasi dan pengaruh sosial. Karena itu, ketahanan nasional harus dibangun dari kemampuan masyarakat membaca dan merespons ancaman secara kritis,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kesadaran bela negara di kalangan pelajar dan komunitas lokal jadi kunci untuk mencegah masyarakat terjebak arus propaganda, polarisasi sosial, dan degradasi nilai kebangsaan.
Kegiatan PKM meliputi edukasi bela negara bagi pelajar, bantuan pendidikan dan bantuan sosial serta donor darah yang melibatkan fasilitas kesehatan setempat. Pendekatan edukatif dan kemanusiaan tersebut dirancang terintegrasi agar nilai bela negara hadir secara aplikatif.
Ketua Pelaksana PKM, Kolonel Czi Dr. Yermia Hendarwoto, juga selaku Kaprodi Diplomasi Pertahanan FSP menegaskan kegiatan ini digelar secara terintegrasi dan tidak bersifat seremonial.

“Kami ingin bela negara dipahami sebagai kebutuhan bersama, karena itu pendekatan edukatif, sosial, dan kemanusiaan disatukan sehingga relevan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” kata Yermia.
Melalui kegiatan ini, Dekan FSP Unhan RI menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun dari pusat kebijakan, tetapi juga dari desa dan komunitas yang sadar, solid, serta berdaya tahan menghadapi ancaman non-militer.

