“Bagi hasil, bagi rata. Semua ikut. Jangan ada yang ditinggal,” ujarnya.
Bagi buruh tani setempat, bantuan tersebut diharapkan meningkatkan produktivitas sekaligus membuka peluang pendapatan baru. Julaiha, salah seorang buruh tani Desa Tegal Sawah, mengaku bersyukur atas bantuan dan rencana penggantian alat yang dicuri.
“Mudah-mudahan dengan adanya alat jadi lebih produktif. Lebih semangat lagi buat kami di sini,” kata Julaiha.
Buruh tani lainnya, Engkus, berharap combine harvester dapat dimanfaatkan bersama sehingga manfaatnya dirasakan seluruh anggota kelompok.
“Alhamdulillah. Bantuan ini semoga bisa dimanfaatkan oleh kita semua,” ujarnya.
Dari Sidak Sawah hingga Mekanisasi
Pemberian bantuan tersebut menjadi bagian dari kunjungan Amran ke Karawang untuk melihat langsung kondisi pertanian di tengah musim kemarau.
Dalam sidak di areal persawahan Karawang, Amran mengecek ketersediaan air serta pemasangan dan pemanfaatan pompa untuk mengairi lahan. Ia menemukan sumber air masih tersedia, tetapi sebagian lahan belum terairi secara optimal.
Pemerintah menargetkan optimalisasi sumber air dan pompanisasi dapat meningkatkan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Di lokasi yang dikunjungi, areal yang berpotensi dioptimalkan mencapai sekitar 3.000 hektare.
Amran mengatakan peningkatan frekuensi tanam dapat berdampak pada pendapatan petani. Ia juga melihat produktivitas padi di lokasi yang saat ini sekitar tujuh ton per hektare masih berpotensi ditingkatkan.
Program pompanisasi sebelumnya, menurut Amran, telah mendorong tambahan produksi sekitar 2,8 juta ton gabah di Pulau Jawa dari pemasangan sekitar 100 ribu pompa.
“Kita jangan sibuk berdebat, rapat, dan seterusnya. Kita lihatlah langsung lapangan ini,” kata Amran.
Dari Karawang, pemerintah mendorong dua sisi penguatan pertanian sekaligus, yakni memastikan lahan tetap produktif pada musim kemarau dan memperluas manfaat mekanisasi kepada masyarakat yang terlibat langsung dalam produksi pangan, termasuk buruh tani.

