Dari sisi luas panen, BPS memperkirakan areal panen padi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 9,46 juta hektare atau naik 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Juni saja, luas panen mencapai 0,84 juta hektare, meningkat 6,93 persen dibandingkan Juni 2025.
Optimisme terhadap produksi pada triwulan III juga didukung hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS pada Juni 2026. Sebanyak 40,27 persen lahan pertanian tercatat masih berada pada fase standing crop atau sedang ditanami padi.
Dari luasan tersebut, sekitar 13,34 persen tanaman telah memasuki fase generatif. Tanaman pada fase ini diperkirakan memasuki masa panen pada Juli sehingga berpotensi menopang produksi padi dan beras nasional dalam beberapa bulan mendatang.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan capaian tersebut menunjukkan berbagai program percepatan produksi mulai memberikan hasil. Menurutnya, peningkatan produksi menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan.
“Di tengah tantangan iklim, produksi pangan tidak boleh turun. Justru seluruh jajaran pertanian harus bergerak lebih cepat memastikan petani tetap berproduksi dengan optimal,” kata Amran.
Untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, Kementerian Pertanian telah menjalankan sejumlah langkah mitigasi, antara lain percepatan luas tambah tanam, optimalisasi lahan, pompanisasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan intensif kepada petani di sentra produksi agar aktivitas budidaya tetap berjalan dan ketersediaan air terjaga.

