Jakarta, Rasional.co – Pemerintah melanjutkan efisiensi fiskal dalam meramu strategi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6 persen pada 2027.
Strategi tersebut disusun dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan kesehatan APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah menilai pertumbuhan yang lebih tinggi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perkembangan ekonomi dan kinerja fiskal sepanjang 2026 menjadi fondasi penyusunan arsitektur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027.
“Dengan mencermati perkembangan ekonomi terkini serta prospek ke depan, arah kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027 dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar dalam RUU APBN Tahun Anggaran 2027.
Untuk mencapai target pertumbuhan 6 persen, pemerintah menilai diperlukan koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dunia usaha, dan pemerintah daerah.
“Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan dunia usaha sehingga masing-masing instrumen dapat bekerja secara optimal, proporsional, dan saling menguatkan,” kata Purbaya.
Dari sisi fiskal, pemerintah akan melanjutkan reformasi dengan meningkatkan kualitas belanja melalui efisiensi, refocusing, serta pengalokasian anggaran yang lebih produktif dan berorientasi pada hasil.
Optimalisasi penerimaan negara juga tetap dilakukan dengan mempertimbangkan iklim investasi. Sementara pembiayaan defisit akan ditempuh secara inovatif, hati-hati, dan berkelanjutan untuk menjaga kesehatan fiskal dalam jangka menengah dan panjang.
Postur RAPBN 2027 mencerminkan upaya menjaga keseimbangan tersebut. Pendapatan negara direncanakan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara dianggarkan Rp4.097,2 triliun.
Dengan postur tersebut, defisit anggaran dijaga sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menilai batas defisit tersebut tetap memberi ruang untuk mendukung akselerasi pembangunan sekaligus menjaga kesinambungan fiskal.
Selain efisiensi belanja, pemerintah akan menjaga stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian inflasi untuk mempertahankan daya beli masyarakat, konsumsi, dan iklim investasi.
Pemerintah juga akan mendorong kondisi suku bunga yang kompetitif untuk mendukung akses pembiayaan, memperkuat kepercayaan dunia usaha, dan meningkatkan aktivitas investasi.
Sektor strategis seperti minyak dan gas bumi turut menjadi perhatian. Pemerintah akan meningkatkan lifting migas melalui reaktivasi sumur tidak aktif, percepatan pengembangan cadangan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan pengawasan untuk meningkatkan efisiensi operasi.
Iklim investasi hulu migas juga akan diperbaiki melalui peningkatan kepastian berusaha, pemberian insentif fiskal, dan penyederhanaan regulasi. Langkah ini diharapkan meningkatkan produksi migas sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Target pertumbuhan ekonomi tersebut juga dibarengi sasaran sosial dalam RAPBN 2027. Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada rentang 6 hingga 6,5 persen dan tingkat pengangguran terbuka 4,3 hingga 4,87 persen.
Rasio gini ditargetkan berada pada rentang 0,362 hingga 0,367, sedangkan Indeks Modal Manusia ditargetkan meningkat menjadi 0,575.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan melalui perbaikan nilai tukar petani pada kisaran 126 hingga 128 dan nilai tukar nelayan pada kisaran 106 hingga 110.
“Berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memperkuat investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi harus didukung oleh APBN yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan,” tegas Purbaya.
Dengan kombinasi efisiensi fiskal, penguatan investasi, stabilitas ekonomi, dan optimalisasi sektor strategis, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 dapat dicapai.
“Dengan strategi ekonomi yang tepat dan kebijakan fiskal yang kuat, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia pada tahun 2027 mampu tumbuh 6 persen dengan inflasi tetap terjaga,” pungkas Purbaya.
Lanjutkan Efisiensi, Pemerintah Bidik Ekonomi Tumbuh 6% pada 2027
Jakarta, Rasional.co – Pemerintah melanjutkan efisiensi fiskal sambil menyiapkan strategi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6 persen pada 2027.
Strategi tersebut disusun dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan kesehatan APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah menilai pertumbuhan yang lebih tinggi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perkembangan ekonomi dan kinerja fiskal sepanjang 2026 menjadi fondasi penyusunan arsitektur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027.
“Dengan mencermati perkembangan ekonomi terkini serta prospek ke depan, arah kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027 dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar dalam RUU APBN Tahun Anggaran 2027.
Untuk mencapai target pertumbuhan 6 persen, pemerintah menilai diperlukan koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dunia usaha, dan pemerintah daerah.
“Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan dunia usaha sehingga masing-masing instrumen dapat bekerja secara optimal, proporsional, dan saling menguatkan,” kata Purbaya.
Dari sisi fiskal, pemerintah akan melanjutkan reformasi dengan meningkatkan kualitas belanja melalui efisiensi, refocusing, serta pengalokasian anggaran yang lebih produktif dan berorientasi pada hasil.
Optimalisasi penerimaan negara juga tetap dilakukan dengan mempertimbangkan iklim investasi. Sementara pembiayaan defisit akan ditempuh secara inovatif, hati-hati, dan berkelanjutan untuk menjaga kesehatan fiskal dalam jangka menengah dan panjang.
Postur RAPBN 2027 mencerminkan upaya menjaga keseimbangan tersebut. Pendapatan negara direncanakan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara dianggarkan Rp4.097,2 triliun.
Dengan postur tersebut, defisit anggaran dijaga sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menilai batas defisit tersebut tetap memberi ruang untuk mendukung akselerasi pembangunan sekaligus menjaga kesinambungan fiskal.
Selain efisiensi belanja, pemerintah akan menjaga stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian inflasi untuk mempertahankan daya beli masyarakat, konsumsi, dan iklim investasi.
Pemerintah juga akan mendorong kondisi suku bunga yang kompetitif untuk mendukung akses pembiayaan, memperkuat kepercayaan dunia usaha, dan meningkatkan aktivitas investasi.
Sektor strategis seperti minyak dan gas bumi turut menjadi perhatian. Pemerintah akan meningkatkan lifting migas melalui reaktivasi sumur tidak aktif, percepatan pengembangan cadangan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan pengawasan untuk meningkatkan efisiensi operasi.
Iklim investasi hulu migas juga akan diperbaiki melalui peningkatan kepastian berusaha, pemberian insentif fiskal, dan penyederhanaan regulasi. Langkah ini diharapkan meningkatkan produksi migas sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Target pertumbuhan ekonomi tersebut juga dibarengi sasaran sosial dalam RAPBN 2027. Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada rentang 6 hingga 6,5 persen dan tingkat pengangguran terbuka 4,3 hingga 4,87 persen.
Rasio gini ditargetkan berada pada rentang 0,362 hingga 0,367, sedangkan Indeks Modal Manusia ditargetkan meningkat menjadi 0,575.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan melalui perbaikan nilai tukar petani pada kisaran 126 hingga 128 dan nilai tukar nelayan pada kisaran 106 hingga 110.
“Berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memperkuat investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi harus didukung oleh APBN yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan,” tegas Purbaya.
Dengan kombinasi efisiensi fiskal, penguatan investasi, stabilitas ekonomi, dan optimalisasi sektor strategis, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 dapat dicapai.
“Dengan strategi ekonomi yang tepat dan kebijakan fiskal yang kuat, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia pada tahun 2027 mampu tumbuh 6 persen dengan inflasi tetap terjaga,” pungkas Purbaya.

