“Kementerian Pariwisata hadir di Labuan Bajo dengan fokus pada pemulihan dan keberlanjutan sektor pariwisata. Hari ini saya bertemu langsung dengan pemerintah daerah, industri, asosiasi, serta para pemangku kepentingan pariwisata,” ujarnya.
“Yang paling penting, saya datang ke sini untuk mendengar langsung kondisi, tantangan, dan kebutuhan mereka pascabencana,” sambungnya.
Pemulihan pariwisata harus dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan, kesiapan destinasi dan pelaku usaha untuk kembali beroperasi, serta tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sektor pariwisata.
Menurut dia, pemulihan juga harus mencakup seluruh rantai ekosistem pariwisata, mulai dari destinasi, akomodasi, restoran, desa wisata, kapal wisata, pemandu, hingga UMKM.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari perbaikan aset atau infrastruktur yang rusak, tetapi juga dari kembalinya pekerjaan dan pendapatan masyarakat.
Menteri Pariwisata Widiyanti menyebutkan empat langkah utama dalam pemulihan pariwisata Flores.
Pertama, memastikan keselamatan serta komunikasi publik yang berbasis data aktual dan konsisten. Kedua, memulihkan destinasi, industri, dan perekonomian masyarakat. Ketiga, mengembalikan kepercayaan pasar serta melakukan reaktivasi pariwisata secara bertahap. Keempat, memperkuat ketangguhan destinasi terhadap risiko bencana.
“Pemulihan tidak berhenti pada perbaikan kerusakan fisik. Momentum ini harus kita gunakan untuk memperkuat manajemen risiko bencana, SOP tanggap darurat, jalur dan titik evakuasi, sistem komunikasi, hingga kesiapan seluruh pelaku pariwisata menghadapi kondisi darurat,” tegas Widiyanti.
Aktivitas Pariwisata Labuan Bajo Tetap Berjalan
Di tengah proses pemulihan pascagempa, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan bahwa aktivitas pariwisata di Labuan Bajo tetap berjalan. Arus kunjungan wisatawan juga disebut relatif terjaga.
Berdasarkan laporan Bupati Manggarai Barat per 28 Agustus 2026, aktivitas pelayaran wisata tetap berlangsung, dengan tercatat sebanyak 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan sejak 15 Agustus 2026. Arus penerbangan domestik maupun internasional juga dilaporkan relatif stabil.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka setelah sempat ditutup sementara pada periode tertentu untuk kepentingan asesmen keselamatan. Sejumlah atraksi wisata darat lainnya juga tetap beroperasi.

